SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pendidikan

Tekan Angka Putus Kuliah di Sulawesi, LAZ Hadji Kalla Hadirkan Program Beasiswa

LAZ
Manager Educare Yayasan Hadji Kalla, Therry Alghifary saat menyampaikan LAZ Hadji Kalla Hadirkan Program Beasiswa. Foto Andri

KENDARI, TERASSULTRA.COM – Angka putus kuliah di Indonesia, khususnya di kawasan timur seperti Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara, masih menjadi persoalan serius.

Data Statistik Pendidikan Tinggi Kemendikbud mencatat meski secara nasional jumlah mahasiswa putus kuliah turun dari 601.333 orang pada 2020 menjadi 375.134 orang pada 2022, tren di tiap provinsi berbeda-beda.

Di Sulawesi Selatan, misalnya, jumlah mahasiswa putus kuliah menurun dari 25.610 (6 persen) pada 2020 menjadi 18.827 (4 persen) pada 2022. Sulawesi Tenggara juga turun signifikan, dari 8.173 (8 persen) menjadi 3.470 (3 persen).

Namun, di Sulawesi Barat justru naik dari 425 (2 persen) menjadi 1.346 (4 persen), begitu pula di Sulawesi Tengah yang meningkat dari 4.855 (6 persen) menjadi 5.717 (6 persen).

Melihat tantangan ini, Lembaga Amil Zakat (LAZ) Hadji Kalla menghadirkan Program Beasiswa Kalla untuk mencegah mahasiswa dari keluarga prasejahtera terpaksa menghentikan kuliahnya.

Sejak 2023 hingga 2024, program ini sudah membantu 733 mahasiswa di empat provinsi tersebut. Angka ini setara dengan 2,14 persen dari total mahasiswa yang putus kuliah di Sulawesi periode 2020–2022.

“Kami berkomitmen membantu mahasiswa agar tidak terhenti kuliahnya hanya karena masalah biaya UKT. Karena kebutuhan paling mendesak itu UKT, maka bantuan kami fokus pada pembiayaan kuliah, bukan uang saku atau lainnya,” jelas Manager Educare Yayasan Hadji Kalla, Therry Alghifary, Kamis (21/8/2025).

Data penerima beasiswa menunjukkan mayoritas berasal dari Sulawesi Selatan sebanyak 396 mahasiswa, disusul Sulawesi Barat 23 mahasiswa, Sulawesi Tengah 15 mahasiswa, dan Sulawesi Tenggara 21 mahasiswa. Menurut Therry, Beasiswa Kalla tidak hanya sebatas bantuan finansial, melainkan juga bagian dari upaya mencetak generasi unggul.

“Kami ingin melahirkan mahasiswa penerima beasiswa yang tidak hanya mampu menyelesaikan kuliahnya, tetapi juga memiliki kapasitas kepemimpinan dan motivasi tinggi untuk membawa perubahan positif di masyarakat,” tegasnya.

Therry menambahkan, ada tiga sasaran utama program Beasiswa Kalla. Pertama, meningkatkan akses pendidikan tinggi bagi mahasiswa berprestasi yang terbatas secara ekonomi. Kedua, mendorong prestasi akademik maupun nonakademik penerima manfaat.

Ketiga, membangun kapasitas kepemimpinan dan sosial mahasiswa untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia di Indonesia timur.

“Manfaat yang ingin kami hadirkan bukan hanya mencegah mahasiswa putus kuliah, tapi juga melahirkan generasi pemimpin muda yang aktif berkontribusi, punya jejaring, dan bisa memberi dampak baik, baik dalam misi Yayasan Hadji Kalla maupun untuk bangsa,” bebernya.

Dengan capaian ini kata Therry, LAZ Hadji Kalla menargetkan peningkatan angka partisipasi pendidikan tinggi. Jika tahun 2024 kontribusi program baru menyentuh 4,6 persen, target ke depan ditingkatkan menjadi 16,7 persen agar semakin banyak mahasiswa prasejahtera bisa menyelesaikan pendidikan tinggi.

Penulis: Andri

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement