KENDARI, TERASSULTRA.COM – Tim PKM Pascasarjana UHO menggelar pelatihan pengelolaan Taman Baca Masyarakat (TBM). Tujuannya memperkuat budaya literasi anak di Kabupaten Konawe Kepulauan, Sulawesi Tenggara (Sultra).
Diharapkan meningkatkan kapasitas pengelola taman baca dalam menciptakan lingkungan belajar yang ramah anak, menyenangkan, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.
Ketua Tim PKM Pascasarjana Dr. Zulfiah Larisu, mengatakan pelatihan ini tidak hanya berorientasi pada kemampuan mengelola koleksi buku, tetapi juga pada pengembangan program literasi yang kreatif dan berkelanjutan.
“Pengelola TBM diharapkan mampu menghadirkan kegiatan yang mendorong anak-anak untuk mengenal buku, menikmati aktivitas membaca, serta mengembangkan rasa ingin tahu dan kemampuan berpikir kritis, ” jelasnya, Kamis (29/10/2026)
Dalam konteks pembangunan sumber daya manusia, keberadaan TBM memiliki arti penting sebagai ruang belajar alternatif di luar sekolah.
Taman baca dapat menjadi tempat bagi anak-anak untuk mengakses pengetahuan, mengeksplorasi minat, dan mengembangkan keterampilan literasi melalui interaksi dengan buku, pendamping, dan sesama pembaca.
Berdasarkan data Perpustakaan Daerah Kabupaten Konawe Kepulauan tahun 2025, perpustakaan desa dan TBM-Pojok Baca berjumlah 23 unit.
Salah seorang pengelola TBM-Pojok Baca Baitul Hikmah, Wa Rufiani, menjelaskan sejak berdiri TBM-Pojok Baca yang dikelolanya pada tahun 2024, anak-anak yang beraktivitas di dalamnya berjumlah 30 orang dengan pendidikan dari kelas 1 sampai dengan kelas 6 Sekolah Dasar.
Kegiatan yang dilakukan sebagian adalah belajar membaca, dan memahami apa yang telah dibaca. Adapun buku-buku yang menjadi sumber bacaan berasal dari bantuan Perpusda Kabupaten Konawe Kepulauan dan sumbangan relawan literasi masyarakat (relima), dengan jumlah 1.327 eksemplar.
Wa Rufiani menambahkan sejak berdiri, TBM-Pojok Baca Baitul Hikmah belum pernah mengikuti pelatihan apa pun dalam rangka meningkatkan kapasitas TBM yang dikelola.
Ketua Tim Pengabdian Masyarakat Pascasarjana UHO, Dr. Zulfiah Larisu, menambahkan ke depan sarana pembelajaran masyarakat seperti perpustakaan desa dan TBM-Pojok Baca harus lebih berkembang dengan adanya kemajuan teknologi komunikasi dan informasi, yaitu bahan bacaan tidak hanya dalam bentuk cetak tetapi juga noncetak atau elektronik/digital.
Selain itu, pengembangan TBM di Kabupaten Konawe Kepulauan perlu mempertimbangkan kondisi sosial dan budaya masyarakat setempat, cerita rakyat, pengetahuan lokal, kehidupan masyarakat pesisir dan kepulauan, serta kearifan lokal dapat menjadi bagian dari bahan bacaan dan aktivitas literasi.
Penggunaan materi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari anak dapat membantu mereka memahami isi bacaan sekaligus mengenali lingkungan dan identitas budayanya.
Dengan demikian, kegiatan literasi tidak hanya mendukung kemampuan membaca, tetapi juga memperkuat hubungan anak dengan masyarakat dan kebudayaan lokal.
Penulis: Arsya

















































Komentar