KENDARI, TERASSULTRA.COM – Pengalaman menangani pemulihan pascabencana di Sulawesi Tenggara (Sultra), mengantarkan Helen Dias Andhini meraih gelar Doktor Ilmu Manajemen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin. Ia lulus dengan predikat cumlaude dan IPK sempurna 4,00.
Diketahui, Helen menyelesaikan studi doktoralnya dalam waktu 2 tahun 2 hari. Dalam ujian promosi doktor, ia mempertahankan disertasi berjudul “Model Manajemen Krisis Strategis: Peran Mediasi Kesiapan Kelembagaan, Tata Kelola Kolaboratif, dan Pemulihan Pascabencana terhadap Ketahanan Berkelanjutan di Provinsi Sultra.
Disertasi itu lahir dari pengalaman Helen sebagai Kepala Seksi Rehabilitasi Pascabencana BPBD Sultra. Selama menangani pemulihan berbagai bencana, ia menemukan bahwa persoalan penanggulangan bencana tidak selalu terletak pada ketiadaan sumber daya, regulasi atau kelembagaan.
Saat ditemui di Kendari, Helen mengatakan, tantangan yang lebih besar adalah memastikan seluruh kapasitas tersebut terhubung dan bekerja sebagai sebuah sistem.
“Penelitian ini berangkat dari apa yang saya lihat dan alami dalam praktik. Kita sebenarnya memiliki banyak kapasitas, tetapi tantangannya adalah bagaimana kapasitas tersebut dapat terintegrasi dan bekerja secara optimal,” ungkapnya, Jumat (21/8/2026).
Karena itu, ia membangun model yang menghubungkan strategi manajemen krisis, kesiapan kelembagaan, tata kelola kolaboratif, pemulihan pascabencana, hingga ketahanan berkelanjutan.
Dalam disertasinya, Helen mengintegrasikan lima konsep, yakni Strategic Crisis Management (SCM), Institutional Readiness (IR), Collaborative Governance (CG), Recovery After Disaster (RAD), dan Sustainable Resilience (SR).
Model tersebut menempatkan manajemen krisis bukan sekadar sebagai dokumen perencanaan. Strategi harus mampu memperkuat kesiapan kelembagaan dan kolaborasi antaraktor, kemudian diterjemahkan dalam pemulihan pascabencana yang efektif untuk membangun ketahanan daerah dalam jangka panjang.
Helen menegaskan, pemulihan pascabencana tidak boleh berhenti pada pembangunan kembali infrastruktur yang rusak.
“Pemulihan harus mengembalikan fungsi kehidupan masyarakat secara lebih luas, baik pelayanan publik, sosial, ekonomi, kesehatan maupun lingkungan. Prinsipnya bukan hanya kembali seperti sebelum bencana, tetapi bagaimana kita dapat pulih lebih baik dan tidak membangun kembali kerentanan yang sama,” bebernya.
Ia kemudian menerjemahkan model tersebut dalam konsep “Siaga-Pulih-Tangguh”.
Konsep itu menggambarkan tiga tahapan yang saling berkaitan. Daerah harus memiliki kesiapan menghadapi krisis, mampu memulihkan kondisi setelah bencana, lalu terus belajar dan beradaptasi agar lebih tangguh menghadapi risiko berikutnya.
Helen menilai model tersebut relevan diterapkan di Sultra. Sebab, menurutnya, berbagai perangkat dasar penanggulangan bencana sebenarnya sudah tersedia.
“Kita tidak harus memulai semuanya dari nol. Yang diperlukan adalah memperkuat dan mengintegrasikan sistem yang sudah ada sehingga seluruh unsur dapat bekerja bersama secara konsisten dan berkelanjutan,” katanya.
Prestasi Helen tidak hanya ditandai dengan IPK 4,00 dan masa studi yang relatif singkat. Selama menjalani pendidikan doktoral, ia juga menghasilkan dua artikel ilmiah pada jurnal internasional bereputasi yang terindeks Scopus Q2 serta menerbitkan sebuah buku.
Dalam ujian promosi, Helen dibimbing Prof. Dr. Abd. Rahman Kadir, S.E., M.Si. sebagai promotor dan Prof. Dr. Muhammad Yunus Amar, S.E., M.B.A. sebagai ko-promotor.
Ujian dipimpin Prof. Dr. Mursalim Nohong, S.E., M.Si. Tim penguji terdiri atas Prof. Dr. Abdul Razak Munir, S.E., M.Si., Prof. Dr. Arifuddin, S.E., M.Si., serta Drs. Asrun Lio, M.Hum., Ph.D. sebagai penguji eksternal.
Capaian akademik tersebut tidak berhenti sebagai prestasi personal. Ia ingin hasil penelitian yang lahir dari pengalaman di lapangan itu kembali memberi manfaat bagi Sultra.
“Gelar doktor membawa tanggung jawab yang lebih besar. Saya ingin hasil dari perjalanan akademik ini kembali kepada daerah dan masyarakat,” kata Helen.
Dengan demikian, ia berharap model yang dikembangkan dalam disertasinya dapat menjadi salah satu referensi bagi pemerintah daerah dalam memperkuat kebijakan penanggulangan bencana.
“Harapan saya, ilmu yang saya peroleh dapat memberikan kontribusi nyata bagi Sulawesi Tenggara, khususnya dalam membangun penanggulangan bencana yang semakin strategis, kolaboratif dan berkelanjutan,” tandasnya.
Penulis: Arsya


















Komentar