KENDARI, TERASSULTRA.COM – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Halu Oleo (UHO) bekerjasama
Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) menggelar Focus Group Discussion (FGD). Kegiatan dengan tema “Penyusunan Kajian Penggunaan Teknologi Climate Smart Agriculture (CSA)-Biotron untuk Meningkatkan Produktivitas Pertanian Bawang Merah” ini menghadirkan Ketua Tim Peneliti Prof. Dr. Ir. Gusti Ayu Kade Sutariati, M.Si bersama seluruh tim peneliti UHO lainnya.
Gusti Ayu Kade Sutariati, mengatakan, ketahanan pangan Indonesia saat ini dihadapkan pada berbagai tantangan multidimensional. Dampak perubahan iklim menyebabkan penurunan produktivitas tanaman akibat cekaman kekeringan maupun genangan, meningkatnya serangan hama dan penyakit, terganggunya kalender tanam, serta fluktuasi produksi komoditas pertanian.
Di sisi lain, kenaikan harga dan ketergantungan terhadap pupuk kimia turut meningkatkan biaya produksi, menurunkan margin keuntungan petani, memicu risiko pengurangan dosis pupuk yang berdampak pada penurunan hasil, serta meningkatkan kerentanan terhadap gejolak harga global.
Ia menjelaskan, tantangan lainnya adalah penurunan kualitas dan daya dukung lahan yang ditandai dengan menurunnya kesuburan tanah, rendahnya efisiensi pemupukan, berkurangnya retensi air, hingga menurunnya produktivitas pertanian.
“Kondisi ini semakin diperberat oleh pertumbuhan jumlah penduduk yang terus meningkatkan permintaan pangan, memberi tekanan terhadap pasokan bahan pangan strategis, mendorong konversi lahan, dan menyebabkan luas lahan pertanian semakin berkurang,” jelasnya, Kamis (30/7/2026).
Menjawab tantangan tersebut, ia menyatakan dikembangkan Teknologi Biotron (Biochar Three-in-One) sebagai solusi pertanian masa depan. Biotron merupakan teknologi modifikasi biochar yang mengintegrasikan media biomasa, sumber nutrisi, dan agen hayati untuk memperbaiki kesehatan tanah sekaligus meningkatkan pertumbuhan tanaman.
“Teknologi ini terdiri atas biomasa sebagai media, pupuk organik cair sebagai sumber nutrisi, serta agen hayati yang menjadi satu kesatuan dalam Biotron. Melalui kombinasi tersebut, Biotron mampu mengurangi degradasi maupun kerusakan lingkungan, menekan biaya produksi dan meningkatkan efisiensi input, meningkatkan efisiensi serapan nutrisi oleh akar, serta meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen,” katanya.
Ia menyebut, Biotron tidak hanya berfungsi sebagai biochar, tetapi juga menjadi rumah produksi bagi nutrisi dan kehidupan tanah. Pada zona perakaran, teknologi ini memiliki kemampuan menahan air lebih lama, menyimpan dan melepaskan nutrisi secara bertahap, serta mendukung keberadaan mikroba baik di sekitar akar tanaman.
“Keunggulan kompetitif biotron juga ditunjukkan melalui kemampuan reservoir air hingga 600 persen, sehingga mampu mengantisipasi kekeringan akibat fenomena El Nino dengan daya simpan air yang tinggi. Selain itu, Biotron berfungsi sebagai remediator toksik yang mampu menetralkan residu pestisida dan logam berat di dalam tanah,” ucapnya.
Ia menerangkan, hasil penerapan teknologi menunjukkan bahwa aplikasi Teknologi Climate Smart Agriculture (CSA) berbasis Biotron dan Bioksi secara nyata mampu meningkatkan produktivitas bawang merah.
“Produksi bawang merah menggunakan Teknologi Biotron meningkat hingga 162 persen dibandingkan teknologi konvensional, sedangkan penggunaan Teknologi Bioksi memberikan peningkatan produksi hingga 197 persen dibandingkan teknologi konvensional,” terangnya.
Katanya, keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa penerapan teknologi inovatif tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga menjadi solusi berkelanjutan bagi sektor pertanian sekaligus berkontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan petani.
“Berdasarkan hasil tersebut, Teknologi CSA berbasis Biotron dan Bioksi direkomendasikan untuk diterapkan lebih luas pada budidaya bawang merah karena telah terbukti meningkatkan produktivitas. Teknologi bioksi layak diprioritaskan sebagai rekom,” tandasnya.
Penulis: Arsya


















Komentar