SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ekobis

PT WIN Berhenti Beroperasi, Warga Torobulu: Kalau Anak Mau Makan, Tidak Bisa Ditunda

Win 28
Pemilik kios di Desa Torobulu , Halwiyati keluhkan sepih pembeli sejak PT WIN berhenti beroperasi, Rabu (13/8/2028). Foto Arsya

KONSEL, TERASSULTRA.COM – Terhentinya operasional PT Wijaya Inti Nusantara (WIN) mulai memukul ekonomi warga Desa Torobulu, Kecamatan Laeya, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel).

Bagi pelaku usaha kecil, dampaknya bukan lagi sekadar penurunan omzet, tetapi menyangkut kebutuhan paling dasar dalam hal ini, makan, biaya sekolah, dan bertahan hidup.

Salah satunya dirasakan Halwiyati, pemilik kios di Desa Torobulu. Sejak aktivitas PT WIN berhenti, omzet dagangannya disebut turun drastis. Karyawan perusahaan yang sebelumnya menjadi pelanggan rutin kini nyaris tak lagi berbelanja seperti sebelumnya.

“Sekarang sangat terasa. Penghasilan kios turun drastis sejak PT WIN tidak beroperasi. Dulu karyawan sering belanja di sini, sekarang sudah sangat berkurang,” ungkapnya, Rabu (12/8/2026).

Penurunan omzet bukan perkara sederhana. Kios menjadi sumber penghasilan utama untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ketika pembeli berkurang, kebutuhan rumah tangga tetap berjalan.

“Saya pusing, karena biaya keluarga harus ditanggung sendiri. Suami juga susah. Mau kerja berat juga susah. Penghasilan saya hanya dari kios,” katanya.

Dalam kesempatan itu, ia mengatakan kondisi tersebut semakin berat karena pendapatannya tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan anak-anak. Ada pula anggota keluarga lain yang ikut bergantung pada penghasilannya.

Di tengah pendapatan yang menurun, kebutuhan sehari-hari tidak ikut berhenti. Anak-anak tetap membutuhkan makanan. Biaya sekolah tetap harus dibayar. Kebutuhan rumah tangga juga terus berjalan.

“Kalau orang tua mau makan mungkin masih bisa ditahan. Tapi kalau anak-anak mau makan, tidak bisa ditunda. Anak-anak mau sekolah, kebutuhan tetap jalan, sementara penghasilan sekarang sudah sangat menurun,” bebernya.

Kalimat itu menggambarkan tekanan ekonomi yang dirasakan warga sejak aktivitas perusahaan terhenti. Sebelum PT WIN berhenti beroperasi, aktivitas pekerja ikut menghidupkan perdagangan warga.

Warung, kios, jasa transportasi, hingga usaha kecil lainnya ikut menikmati perputaran uang dari aktivitas perusahaan. Kini, ketika aktivitas tersebut berhenti, rantai ekonomi itu ikut melemah.

Halwiyati berharap persoalan yang menyebabkan PT WIN tidak beroperasi segera mendapat penyelesaian. Ia meminta pemerintah memperhatikan nasib masyarakat yang ikut terdampak, bukan hanya pekerja perusahaan.

“Harapan saya, Presiden Prabowo bisa membantu agar persoalan RKAB ini cepat diselesaikan. Kami masyarakat berharap ekonomi bisa kembali stabil seperti dulu. Kami hanya ingin bisa bekerja, berusaha dan memenuhi kebutuhan keluarga,” tuturnya.

Persoalan berhentinya operasional perusahaan bukan hanya soal perusahaan dan pekerjanya. Ada keluarga-keluarga di sekitar wilayah operasional yang ikut kehilangan sumber penghasilan secara tidak langsung.

“Yang kami rasakan sekarang, bukan hanya karyawan yang susah. Kami yang berjualan juga ikut merasakan. Kalau perusahaan tidak jalan, pembeli berkurang. Kalau pembeli berkurang, kami mau dapat uang dari mana untuk makan dan menyekolahkan anak?” paparnya.

“Yang kami minta cuma satu, jangan sampai masyarakat kecil terus yang jadi korban. Kami mau bekerja dan berusaha. Kami mau anak-anak tetap makan dan sekolah,” tandas Halwiyati.

Penulis: Arsya

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement