WAKATOBI, TERASSULTRA.COM – Seorang nelayan asal Desa Waelumu, Kecamatan Tomia, Kabupaten Wakatobi, dilaporkan hilang saat melaut di tengah cuaca buruk yang melanda wilayah tersebut. Korban diketahui bernama La Ali (56), yang hingga Kamis pagi (3/7/2025) belum kembali ke daratan setelah berangkat melaut sejak dini hari sebelumnya.
Informasi hilangnya korban pertama kali dilaporkan oleh keluarga kepada Kantor Pencarian dan Pertolongan (KPP) Basarnas Kendari melalui Comm Centre pada pukul 06.33 Wita. Laporan tersebut disampaikan oleh Saudu, salah satu anggota keluarga korban.
“Begitu menerima informasi dari keluarga korban, kami langsung memerintahkan Tim Rescue dari Pos SAR Wakatobi untuk bergerak cepat ke lokasi kejadian untuk melakukan operasi pencarian,” ungkap Kepala KPP Kendari, Amiruddin, Kamis (3/7/2025).
Tim SAR diberangkatkan pada pukul 06.55 Wita menuju Last Known Position (LKP), yakni sekitar 12 mil laut dari pesisir Desa Waelumu, lokasi terakhir di mana korban diduga berada sebelum hilang kontak.
Menurut Amiruddin, korban diketahui berangkat melaut pada Selasa dini hari sekitar pukul 03.00 Wita dengan menggunakan perahu miliknya. Namun hingga malam hari, La Ali tidak kunjung kembali ke rumah. Keluarga yang merasa khawatir sempat melakukan pencarian mandiri namun belum membuahkan hasil.
“Korban diduga hilang akibat cuaca buruk dan gelombang tinggi yang terjadi sejak kemarin. Situasi perairan saat ini memang cukup ekstrem, dengan angin kencang dan ombak mencapai dua meter,” jelasnya.
Operasi pencarian terhadap La Ali kini melibatkan sejumlah unsur. Selain Pos SAR Wakatobi dan KPP Kendari, pencarian juga dibantu oleh Pos TNI AL Wakatobi, Polair Wakatobi, serta unsur masyarakat setempat termasuk keluarga korban.
“Kami membagi tim ke beberapa sektor berdasarkan arah angin dan arus. Fokus kami adalah menemukan korban dalam keadaan selamat. Cuaca menjadi tantangan utama saat ini, namun kami tetap berupaya semaksimal mungkin,” tegas Amiruddin.
Metode pencarian dilakukan dengan penyisiran menggunakan Rigid Inflatable Boat (RIB) dan perahu tradisional milik warga, serta pemantauan dari titik darat. Area pencarian difokuskan di sekitar koordinat awal tempat korban diperkirakan terakhir kali berada.
Selain itu, Amiruddin mengimbau masyarakat nelayan untuk selalu memperhatikan informasi cuaca sebelum melaut. Keselamatan menjadi prioritas, terutama saat kondisi laut sedang tidak bersahabat.
“Kami mengingatkan seluruh nelayan untuk waspada. Jika cuaca tidak memungkinkan, lebih baik tunda kegiatan melaut. Keselamatan adalah yang utama,” tandasnya.
Penulis: Andri


















Komentar