KENDARI, TERASSULTRA.COM – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Kendari dari Fraksi Partai Golkar, Fadhal Rahmat, akhirnya angkat bicara terkait insiden penggunaan vape yang terjadi di ruang rapat dewan baru-baru ini. Aksinya sempat viral dan menuai sorotan publik, terutama karena dilakukan di ruang resmi lembaga legislatif.
Fadhal secara terbuka menyampaikan permintaan maaf kepada publik dan mengakui bahwa apa yang dilakukannya adalah bentuk kelalaian pribadi yang seharusnya tidak terjadi, terlebih di ruang sidang dewan yang merupakan simbol representasi rakyat.
“Saya akui, itu murni kelalaian saya. Tidak seharusnya terjadi di ruang rapat DPRD. Saya minta maaf kepada masyarakat dan seluruh pihak yang merasa tidak nyaman atas tindakan saya,” ujar Fadhal saat dikonfirmasi, Kamis (3/7/2025).
Fadhal menjelaskan bahwa kejadian itu berlangsung saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) membahas persoalan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di RS Santa Anna. Menurutnya, saat itu forum tengah memasuki masa jeda sementara, bukan dalam sesi pembahasan resmi.

Anggota DPRD Kota Kendari, Fadhal Rahmat saat memberikan keterangan soal insiden vape di dalam ruang rapat dewan. Foto Andri
“Rapat saat itu memang sedang break. Bukan dalam sesi resmi. Spontan saja, saya mengisap vape. Tapi tetap saja, ruang itu tempat resmi dan saya seharusnya tidak melakukannya. Saya tidak ingin mencari pembenaran, hanya ingin menjelaskan konteksnya,” paparnya.
Terkait aksi live streaming yang ia lakukan dari dalam ruang rapat, Fadhal menyatakan bahwa itu merupakan bagian dari upaya transparansi dan komunikasi dua arah dengan masyarakat. Menurutnya, banyak warga yang menyampaikan keluhan langsung melalui siaran tersebut.
“Itu bagian dari amanah saya sebagai wakil rakyat. Live tersebut saya gunakan untuk mendengar langsung aspirasi masyarakat, terutama terkait kasus PHK. Masukan yang masuk, langsung saya sampaikan dalam forum. Jadi bukan untuk gaya-gayaan,” ungkapnya.
Fadhal menegaskan bahwa ia menghormati etika lembaga, namun di saat bersamaan juga ingin membangun pola komunikasi publik yang lebih terbuka dan responsif. Meski begitu, ia mengaku ke depan akan lebih hati-hati dalam memilih waktu dan tempat untuk menyampaikan aspirasi melalui media sosial.
Insiden ini, menurut Fadhal, menjadi pengingat penting baginya sebagai pejabat publik untuk selalu menjaga sikap, terutama dalam lingkungan yang melekat dengan simbol kewibawaan institusi negara.

Anggota DPRD Kota Kendari, Fadhal Rahmat saat memberikan keterangan soal vape di dalam ruang RDP. Foto Andri
“Saya paham, sebagai wakil rakyat ada hal-hal yang tidak bisa dianggap remeh. Saya berjanji untuk lebih berhati-hati, dan memastikan kejadian seperti ini tidak terulang lagi,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Fadhal juga menyampaikan terima kasih kepada masyarakat, terutama warganet yang telah memberikan kritik secara langsung maupun melalui media sosial. Menurutnya, kritik tersebut adalah bentuk perhatian yang harus diterima dengan lapang dada.
“Kritik itu sehat. Saya tidak anti dikritik. Justru dari situ saya belajar. Saya ingin tetap menjadi wakil rakyat yang terbuka terhadap masukan, agar bisa terus memperbaiki diri,” katanya.
Insiden ini menjadi refleksi penting bukan hanya diri pribadi tetapi juga bagi semua anggota legislatif agar senantiasa menjunjung etika dan kehormatan lembaga. Sebagai representasi masyarakat, setiap tindakan anggota dewan akan selalu berada dalam pantauan publik.
“Saya mohon maaf sebesar-besarnya kepada masyarakat Kota Kendari. Saya berharap ini jadi pelajaran, baik bagi saya maupun kolega lain, agar kami bisa terus meningkatkan kualitas sebagai wakil rakyat yang bermartabat dan bertanggung jawab,” bebernya
“Kami semua manusia biasa, tapi saya pastikan akan terus belajar dan berbenah agar bisa menjadi wakil rakyat yang lebih baik, bermartabat, dan bertanggung jawab,” tandasnya. (adv)


















Komentar