SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ekobis

Meski Diterpa Cuaca Buruk, Pembangunan Bendungan Laiba Terus Berjalan

IMG 20250628 WA0003
Mobil truk angkut material timbunan bendungan jalan terus meski diterpa hujan atau cuaca buruk. Foto Andri

MUNA, TERASSULTRA.COM – Pembangunan Bendungan Laiba yang terletak di Desa Laiba, Kecamatan Parigi, Kabupaten Muna, terus menunjukkan progres positif. Sejak dimulai pada Mei 2025, proyek strategis nasional tersebut kini telah mencapai progres fisik sebesar 10 persen, meski dihadapkan pada tantangan cuaca buruk.

Hal itu diungkapkan oleh Humas PT Sinar Putra Mahaba (SPM), La Ode Hasanuddin Kansi, selaku kontraktor pelaksana proyek.

“Hari ini kami sudah mencapai target sekitar 10 persen sejak mulai bekerja pada Mei. Alhamdulillah, meski diguyur hujan hampir setiap hari, progres tetap berjalan sesuai target,” ujar Hasanuddin, Jumat (27/6/2025) malam.

Hasanuddin menjelaskan bahwa pengerjaan bendungan tersebut mencakup tiga titik utama, yaitu rehabilitasi Bendungan Kolasa di Wakumoro, rehabilitasi Bendungan Labulubulu di Desa Latampu, dan pembangunan baru Bendungan Laiba di Desa Laiba.

“Untuk saat ini, pekerjaan yang sudah berjalan meliputi tahap rehabilitasi dan pembangunan rumah jaga di masing-masing lokasi. Khusus di Laiba, kami tengah fokus pada penimbunan jalan masuk dan pembersihan area aliran sungai,” jelasnya.

Proses pembangunan di lokasi Desa Laiba memang memerlukan perhatian khusus, mengingat kondisi tanahnya yang berlumpur dan sulit dilalui kendaraan berat. Oleh karena itu, proses awal difokuskan pada penimbunan akses jalan agar mobilisasi material bisa berjalan lancar.

“Medannya cukup berat, karena tanahnya lembek. Jadi sebelum penggalian inti bendungan dimulai, kami harus pastikan akses material dan alat berat bisa masuk tanpa hambatan,” tambahnya.

Kontrak kerja proyek pembangunan bendungan ini memiliki masa pelaksanaan selama 210 hari kalender. Hasanuddin menyatakan optimisme bahwa proyek akan rampung sesuai dengan waktu yang ditentukan.

“Kami sangat optimis. Insya Allah sebelum masa kontrak berakhir, seluruh pengerjaan sudah bisa kami selesaikan,” ungkapnya.

Meski progres berjalan sesuai rencana, Hasanuddin mengungkapkan adanya kendala administratif di lokasi lain, yakni di Desa Latampu. Menurutnya, proses pengerjaan bendungan di sana masih terbatas karena surat hibah lahan dari Pemerintah Kabupaten Muna belum diterbitkan.

“Alat berat dan material sudah siap, tapi kami belum bisa mengerjakan struktur utama bendungan karena surat hibah dari pemda belum kami terima. Saat ini kami baru mengerjakan pembangunan rumah jaga, yang lahannya telah dihibahkan oleh Pemerintah Desa,” paparnya.

Di tengah tantangan teknis dan administratif, dukungan masyarakat terhadap proyek ini dinilai sangat tinggi. Hasanuddin menyebut, kehadiran bendungan ini akan memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan produktivitas pertanian warga, memperkuat ketahanan pangan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.

“Antusiasme masyarakat sangat besar. Mereka sadar bahwa kehadiran bendungan ini akan memperbaiki sistem irigasi, khususnya di Desa Labulubulu dan Latampu yang selama ini menjadi sentra produksi beras untuk Kabupaten Muna,” ungkapnya.

Bendungan Laiba sendiri merupakan bagian dari program infrastruktur strategis nasional yang diperjuangkan oleh Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Ridwan Bae. Proyek ini dirancang untuk memperkuat ketahanan air dan pangan di wilayah Sulawesi Tenggara, khususnya Kabupaten Muna yang memiliki potensi besar di sektor pertanian.

Selain fungsi irigasi, bendungan ini juga direncanakan memiliki multifungsi untuk pengendalian banjir, penyediaan air baku, dan potensi wisata alam di masa mendatang.

“Ini adalah bentuk nyata dari komitmen pemerintah pusat dalam membangun daerah dari pinggiran. Kami berharap masyarakat terus mendukung dan menjaga proyek ini hingga selesai,” tandas Hasanuddin.

Penulis: Andri

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement