HAIKOU, TERASSULTRA.COM – Upaya Tiongkok mengintegrasikan pembangunan ekonomi dengan perlindungan lingkungan dinilai layak menjadi rujukan bagi banyak negara, termasuk Indonesia.
Melalui kebijakan yang konsisten, negara itu dinilai mampu menjaga pertumbuhan ekonomi tanpa mengabaikan kelestarian alam.
Penilaian tersebut disampaikan Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI), Teguh Santosa, saat mengunjungi Provinsi Hainan, Tiongkok, Kamis, 16 Juli 2026.
Selama berada di Hainan, Teguh melihat langsung bagaimana pembangunan kota dipadukan dengan pelestarian lingkungan. Haikou menjadi contoh kota yang berhasil menjaga keseimbangan antara pembangunan dan ruang hijau.
“Di Hainan kita dapat menyaksikan integrasi pembangunan dan perlindungan alam yang serius. Kota Haikou menjadi semacam kota taman yang sangat asri,” ungkapnya saat berbincang dengan Prof. Li Renjun dari Hainan University dalam perjalanan menuju Pelabuhan Cosco Shipping Lines.
“Banyak yang mengatakan Hainan menyerupai Hawaii, tetapi setelah melihat Haikou dari dekat saya kira tidak berlebihan jika mengatakan bahwa justru Hawaii yang menyerupai Hainan, khususnya Haikou,” sambungnya
Selain tata kelola lingkungan di tingkat daerah, Teguh menyentil komitmen pemerintah Tiongkok menjalankan kebijakan dual carbon target, yakni menargetkan puncak emisi karbon sebelum 2030 dan mencapai netralitas karbon sebelum 2060.
Menurutnya, target tersebut dijalankan melalui regulasi yang ketat dan transisi energi yang terukur.
“Kita menyaksikan bagaimana sebuah negara industri besar bersedia mengambil tanggung jawab besar demi masa depan bumi. Komitmen dual carbon target Tiongkok memberikan optimisme baru di tengah ancaman perubahan iklim global yang semakin nyata,” jelasnya.
Tak hanya itu, Teguh mengapresiasi berbagai proyek restorasi ekologi yang telah menunjukkan hasil nyata, di antaranya program penghijauan di Provinsi Hebei dan kawasan Gurun Gobi.
Hebei, yang selama ini dikenal sebagai salah satu pusat industri berat dengan tingkat polusi tinggi, kini perlahan berubah melalui penanaman pohon secara masif. Program itu membentuk sabuk hijau yang mampu menekan polusi udara sekaligus mengurangi badai pasir yang menuju Beijing.
Sementara itu, penghijauan Gurun Gobi dinilai menjadi bukti bahwa teknologi, riset, dan keterlibatan masyarakat mampu memulihkan lahan kritis. Sebagian kawasan gurun kini berubah menjadi wilayah yang lebih hijau dan produktif.
“Mengubah lahan gersang di Gurun Gobi menjadi kawasan hijau bukan pekerjaan mudah. Ini membutuhkan konsistensi, pendekatan ilmiah, dan keterlibatan masyarakat yang luar biasa. Apa yang dilakukan di Hebei dan Gobi menjadi preseden penting bagi dunia,” kata dosen hubungan internasional tersebut.
Kemudian kata Teguh, Hainan menjadi contoh bahwa pertumbuhan ekonomi tidak harus mengorbankan kualitas lingkungan. Meski berkembang sebagai Free Trade Port, pemerintah setempat tetap mempertahankan kualitas udara dan ekosistem melalui berbagai kebijakan hijau, termasuk pembatasan kendaraan berbahan bakar fosil serta pengembangan ekowisata.
Ia menilai keberhasilan tersebut lahir dari kemauan politik yang kuat, didukung inovasi teknologi dan partisipasi masyarakat.
Sebagai pemimpin organisasi media, Teguh menegaskan media memiliki peran strategis dalam menyebarluaskan praktik-praktik baik di bidang lingkungan agar dapat menjadi inspirasi bagi negara lain.
“Media memiliki tanggung jawab moral untuk menyuarakan gerakan penyelamatan bumi. Informasi mengenai teknologi hijau dan konservasi alam seperti yang dipraktikkan Tiongkok perlu terus disebarluaskan agar dapat diadaptasi di Indonesia,” tandasnya.
Untuk diketahui, kunjungan delegasi JMSI ke Hainan berlangsung atas undangan All China Journalists Association (ACJA). Selain mempererat hubungan antarmasyarakat Indonesia dan Tiongkok, kunjungan itu membuka peluang kolaborasi dalam kampanye pelestarian lingkungan di tingkat global.
Dalam rombongan tersebut, Teguh didampingi Penasihat JMSI Pusat Mursyid Sonsang, Utusan Bidang Luar Negeri Yophiandi Kurniawan, Ketua JMSI Lampung Ahmad Novriwan, Ketua JMSI Kalimantan Tengah Julius Marulitua Sinaga, serta pembina Farah.id, Farida Farhah.
Rilis


















Komentar