SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ekobis

Hariani Bawa BRCC ke Kolaka

Hariani
Hariani Syamsuddin. Foto ist

KOLAKA, TERASSULTRA.COM – Akademisi asal Tanah Merah, Kecamatan Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Hariani Syamsuddin menggagas kolaborasi lintas sektor untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) lokal di tengah pesatnya perkembangan industri dan Proyek Strategis Nasional (PSN) di Kabupaten Kolaka.

Hariani yang dalam waktu dekat akan menyandang gelar Doktor di bidang Manajemen Sumber Daya Manusia itu menggandeng Belt and Road Chinese Center (BRCC) Indonesia untuk menghadirkan pusat pembelajaran Bahasa Mandarin di Sulawesi Tenggara (Sultra).

Menurutnya, pembangunan daerah tidak cukup hanya mengandalkan investasi dan kehadiran industri. Daerah juga harus menyiapkan SDM yang memiliki kompetensi dan mampu bersaing di tingkat global.

“Kolaka memiliki potensi besar. Namun, potensi itu harus ditopang oleh kualitas SDM. Karena itu, kami ingin membangun kolaborasi antara pemerintah, DPRD, dunia pendidikan, perusahaan, dan masyarakat agar putra-putri daerah menjadi pelaku utama pembangunan, bukan hanya menjadi penonton di daerahnya sendiri,” jelasnya, Senin (29/6/2026).

Dalam kesempatan itu, ia menegaskan, penguasaan Bahasa Mandarin menjadi salah satu kompetensi strategis yang dibutuhkan seiring meningkatnya investasi dan aktivitas industri yang melibatkan perusahaan-perusahaan asal China.

“Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga jembatan menuju pendidikan, teknologi, investasi, dan kesempatan kerja. Jika SDM lokal memiliki kompetensi itu, mereka akan memiliki daya saing yang lebih tinggi,” bebernya.

Gagasan tersebut mendapat respons positif dari BRCC Indonesia. Lembaga yang merupakan bagian dari jaringan internasional berpusat di Guangzhou, China, dan memiliki cabang di 36 negara itu menyatakan siap mendukung pengembangan SDM di Kolaka melalui berbagai program pendidikan.

Program yang disiapkan meliputi kuliah bersubsidi di perguruan tinggi negeri di China untuk jenjang D3 hingga S3, pelatihan intensif Bahasa Mandarin lebih dari 180 jam selama tiga bulan, kelas persiapan sertifikasi HSK, hingga kerja sama antara perguruan tinggi di China dengan sekolah maupun kampus di Sultra.

Hariani mengatakan seluruh program tersebut dirancang agar masyarakat memperoleh akses pendidikan yang lebih luas sekaligus meningkatkan kesiapan memasuki dunia kerja.

Untuk memastikan program berjalan berkelanjutan, Hariani menggalang sinergi lima pilar pembangunan daerah. Kolaborasi itu melibatkan Pemerintah Kabupaten Kolaka dan DPRD sebagai pembuat kebijakan, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) dalam menjaga stabilitas sosial.

Kemudian, Dinas Tenaga Kerja untuk memetakan kebutuhan tenaga kerja industri, perusahaan-perusahaan PSN sebagai mitra penyerapan tenaga kerja, serta sektor pendidikan melalui Dinas Pendidikan, kepala sekolah, SMA, dan SMK.

Keberhasilan program tidak hanya bergantung pada satu lembaga, tetapi membutuhkan komitmen bersama seluruh pemangku kepentingan.

“Tidak ada pembangunan SDM yang berhasil jika berjalan sendiri-sendiri. Pemerintah, dunia pendidikan, industri, dan masyarakat harus bergerak dalam satu arah. Dengan kolaborasi itulah kita bisa mencetak generasi Kolaka yang kompeten, mandiri, dan mampu bersaing di tingkat global,” jelasnya.

Dengan demikian, Hariani berharap kehadiran BRCC Indonesia menjadi titik awal lahirnya ekosistem pendidikan dan pengembangan kompetensi yang mampu memperkuat daya saing masyarakat Kolaka di tengah arus investasi dan transformasi industri yang terus berkembang.

“Target akhirnya bukan sekadar melahirkan lulusan yang bisa berbahasa Mandarin, tetapi menciptakan SDM yang siap mengisi peluang kerja, menjadi pemimpin di sektor industri, dan membawa Kolaka menjadi daerah yang maju dengan masyarakat lokal sebagai aktor utamanya,” tandasnya.

Penulis: Arsya

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement