KENDARI, TERASSULTRA.COM – Dosen Universitas Muhammadiyah Kendari (UMK) dan Universitas Nahdlatul Ulama Sulawesi Tenggara (UNUSRA) mendorong kader Posyandu di Desa Garuda, Kecamatan Padangguni, Kabupaten Konawe, tidak hanya menjalankan layanan kesehatan dasar.
Diketahui, sebanyak 12 kader dibekali kemampuan menjadi penggerak literasi keamanan produk konsumsi dan pola hidup sehat di tengah masyarakat.
Program tersebut dikemas melalui pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Posyandu Plus: Agen DETAK”. Kegiatan ini melibatkan dosen lintas disiplin ilmu dan mahasiswa pendamping.
Tim pelaksana dipimpin Ismi Fadjriah Hamzah, S.H., M.H. dari UMK, bersama Ulfah Attamimi, M.I.Kom. dari UMK dan Suryani, S.Pd., M.Pd. dari UNUSRA.
Ismi mengatakan kader Posyandu dipilih karena memiliki posisi strategis di tengah masyarakat. Mereka berinteraksi langsung dengan keluarga, khususnya ibu rumah tangga, sehingga dinilai efektif menjadi penyampai informasi mengenai keamanan produk yang dikonsumsi sehari-hari.
“Kader Posyandu adalah figur yang dekat dan dipercaya masyarakat. Karena itu, mereka tidak cukup hanya memahami layanan Posyandu, tetapi juga perlu memiliki kemampuan memberikan edukasi yang menyentuh kebutuhan sehari-hari keluarga, termasuk bagaimana memastikan produk yang dibeli aman dan layak dikonsumsi,” tegasnya.

Dosen Universitas Muhammadiyah Kendari dan Universitas Nahdlatul Ulama Sulawesi Tenggara beserta kader Posyandu di Desa Garuda, Kecamatan Padangguni, Kabupaten Konawe saat serah terima aset usai dibekali kemampuan menjadi penggerak literasi keamanan produk konsumsi dan pola hidup sehat di tengah masyarakat, Jumat (17/7/2026). Foto Arsya
Dalam kesempatan itu, Ismi mengatakan, masih banyak masyarakat yang membeli produk pangan olahan maupun obat bebas tanpa memeriksa informasi penting pada kemasan. Padahal, izin edar dan tanggal kedaluwarsa menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan sebelum produk dikonsumsi.
Melalui program Agen DETAK, para kader diperkenalkan dengan KIT DETAK dan Kartu Pintar Tiga Langkah. Perangkat edukasi itu digunakan untuk membantu kader memberikan pemahaman praktis kepada warga mengenai cara memeriksa izin edar resmi dan tanggal kedaluwarsa.
“Kami ingin mengubah kebiasaan masyarakat dari sekadar membeli menjadi membeli dengan teliti. Sebelum produk dikonsumsi, masyarakat harus membiasakan diri memeriksa informasi penting pada kemasan. Kader kami bekali dengan cara yang sederhana agar pesan itu mudah diteruskan kepada warga,” ungkapnya.
Ia menegaskan program tersebut bukan sekadar pelatihan satu kali. Tim PKM mendorong kader menjadi penggerak yang dapat meneruskan edukasi secara mandiri setelah program selesai.
“Target kami bukan hanya kader memahami materi, tetapi mereka mampu menjadi agen perubahan di desa. Pengetahuan yang diperoleh harus diteruskan kepada keluarga dan masyarakat sehingga literasi keamanan produk menjadi kebiasaan, bukan sekadar pengetahuan,” jelasnya.
Program ini tambahnya, mempertemukan tiga bidang keilmuan, yakni pemahaman regulasi dan hak konsumen, strategi komunikasi edukatif, serta pendidikan jasmani dan kesehatan.
Ismi mengatakan kolaborasi UMK dan UNUSRA sengaja dibangun untuk menjawab kebutuhan masyarakat secara lebih utuh.
“Kami tidak ingin pengabdian berhenti pada penyampaian materi. Ada aspek perlindungan konsumen, ada aspek komunikasi, dan ada aspek kesehatan. Ketiganya kami satukan agar kader memiliki kemampuan yang lebih lengkap dalam mendampingi masyarakat,” tutupnya.

Dosen UMK dan UNUSRA saat melaksanakan survei dalam rangka mengedukasi kader Posyandu terkait kemampuan menjadi penggerak literasi keamanan produk konsumsi dan pola hidup sehat, Kamis (28/5/2026). Foto Arsya
Sementara itu, Dosen UNUSRA, Suryani, S.Pd., M.Pd., mengatakan Posyandu dapat dikembangkan menjadi ruang interaksi masyarakat yang tidak hanya berorientasi pada pelayanan kesehatan, tetapi juga membangun kebiasaan hidup aktif.
“Melalui bantuan sarana kebugaran, para kader dilatih memandu gerakan senam sederhana yang aman dan terarah bagi kelompok lansia maupun ibu-ibu. Dengan demikian, Posyandu dapat menjadi ruang interaksi yang sehat dan aktif,” bebernya.
“Tim juga memberikan sarana kebugaran untuk mendukung kegiatan aktivitas fisik masyarakat di Desa Garuda. Kader diarahkan agar mampu memandu kegiatan senam sederhana secara rutin dan sesuai kemampuan peserta,” sambungnya.
Di tempat yang sama, Ketua mitra Desa Garuda, Rasmianti, S.Pd., menyambut program tersebut. Ia menilai pembekalan yang diberikan meningkatkan kepercayaan diri kader dalam menyampaikan edukasi kepada masyarakat.
“Pelatihan dan bantuan peralatan dari tim dosen ini sangat bermanfaat bagi para kader. Kami jadi lebih percaya diri mengedukasi warga agar teliti sebelum membeli barang kebutuhan. Posyandu kami juga kini memiliki kegiatan senam bersama secara rutin,” tandasnya.
Untuk diketahui, program “Posyandu Plus: Agen DETAK” mendapat dukungan pendanaan dari Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) Kemendiktisaintek RI Tahun Anggaran 2026.
Kegiatan tersebut dilaksanakan melalui kolaborasi LPPM Universitas Muhammadiyah Kendari dan Universitas Nahdlatul Ulama Sulawesi Tenggara sebagai bagian dari implementasi Catur Dharma Perguruan Tinggi.
Penulis: Arsya


















Komentar