SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berita

Dihentikan Sementara, Ribuan Warga Wawonii Gelar Demo Tuntut Pemerintah Turun Tangan

Masyarakat Wawonii saat menggelar aksi di DPRD Sultra, Selasa, (31/10). Foto Odeh
Masyarakat Wawonii saat menggelar aksi di DPRD Sultra, Selasa, (31/10). Foto Odeh

KENDARI, TERASSULTRA.COM – Ribuan warga Wawonii, Kabupaten Konawe Kepulaun, kembali melakukan demo lanjutan di Kota Kendari, menuntut Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), untuk turut andil langsung dalam memikirkan nasib warga yang kini kehilangan pekerjaan, setelah kegiatan operasional PT Gema Kreasi Perdana (GKP) terhenti untuk sementara waktu.

Massa yang berasal dari berbagai desa di Kabupaten Konawe Kepulauan, merupakan bekas karyawan PT GKP yang sudah bekerja kurang lebih selama satu tahun. “Selama satu tahun terakhir kami memiliki pendapatan yang pasti setiap bulan, bisa membantu memenuhi kebutuhan keluarga dari bekerja di tambang. Sekarang, hal itu tidak bisa lagi kami dapatkan setelah kegiatan tambang untuk sementara berhenti dan kami terkena efisiensi,” beber salah seorang warga Wawonii yang ikut melakukan demonstrasi, Selasa, (31/10).

“Karena itu kami datang meminta perhatian pemerintah dan DPRD untuk memperhatikan nasib kami yang saat ini kehilangan pekerjaan,” sambungnya.

Terhentinya kegiatan operasonal PT GKP di Pulau Wawonii, tidak saja menyisahkan ribuan orang yang kehilangan pekerjaan, tetapi juga berdampak terhadap perekonomian masyarakat sekitar tambang. Warung-warung makan yang mulai tumbuh sejak kehadiran perusahaan, rumah kontrakan, kedai kopi juga toko-toko kelontong, kini sepi dan pendapatan jauh menurun drastis. “Dulu, kos-kosan belum selesai dibangun, sudah banyak peminat, bahkan kami sampai menolak karena jumlah kamar yang terbatas. Sekarang, dari 10 kamar kos, kosong, tidak ada satupun terisi,” kata Sajehan, pemilik rumah kontrakan di Rokoroko.

Karena itu, usai melakukan demonstrasi terhadap Pemkab dan DPRD Kabupaten Konawe Kepulauan pada 23 Oktober 2023 lalu, massa secara mandiri dan sukarela mendatangi dan menuntut Pemprov dan juga DPRD Sultra untuk memperhatikan nasib mereka. “Dengan melihat kodisi di masyarakat pasca terhentinya kegiatan operasional PT GKP, maka kami tergerak utuk meminta pemerintah agar juga memperhatikan nasib kami,” ungkap Andiman, Jenderal lapangan aksi Persatuan Mahasiswa Masyarakat wawonii (PMWM).

“Ribuan orang kehilangan pekerjaan. Kemudian perekonomian yang mulai bertumbuh kembali lesuh. Dan aksi ini merupakan aksi murni yang lahir dari kegelisahan masyarakat Wawonii,” tambahnya.

Dalam aksi yang berlangsung di depan kantor Gubernur Sultra dan DPRD Sultra tersebut, terdapat beberapa tuntutan massa, yakni mendukung investasi pertambangan dan investasi lainnya di Kabupaten Konawe Kepulauan.

Selanjutnya meminta kepada Pemprov untuk membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya di Kabupaten Konawe Kepulauan. Kemudian mereka juga meminta Pemprov Sultra untuk mengambil langkah agar PT GKP dapat segera kembali beroperasi.

Terakhir, mereka juga mengecam tindakan beberapa oknum yang selalu mengatasnamakan masyarakat Wawonii, Kabupaten Konawe Kepulauan untuk menolak hadirnya investasi pertambangan di Pulau Wawonii. Kehadiran PT GKP di Pulau wawonii, memiliki dampak positif dan memberi multiplier effect yang cukup besar.

Hal ini disampaikan oleh Rustam, salah satu warga Rokoroko Raya. Menurutnya jaringan listrik di wilayah Rokoroko mulai hadir semenjak perusahaan hadir. Diawali dengan program di bidang CSR yang bernama desa terang.

Setelahnya, pada 2019, perusahaan listrik negara pun kemudian menyambungkan jaringan listrik di wilayah Rokoroko. “Dulu kita pake mesin jenset di masing-masing rumah. Sekarang setelah program perusahaan, PLN masuk dan kita sudah bisa merasakan listrik 24 jam,” tandasnya.

Penulis: Odeh

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement