SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kabar Daerah

Tak Menunggu Anggaran, Aiptu Ahmad Syamsul Gali Sumur dari Gaji Demi Warga Muna

Ahmad
Warga saat mengambil air dari sumur bor yang dibangun Aiptu Ahmad Syamsul. Foto Arsya

MUNA, TERASSULTRA.COM – Ketika sebagian besar orang mengeluhkan keterbatasan, Aiptu Ahmad Syamsul justru menjadikannya ladang pengabdian. Bukan dengan senjata, melainkan dengan mesin bor dan pipa air, anggota Polsek Tongkuno, Polres Muna ini bergerak membelah cadas demi menyalurkan kehidupan, air bersih.

Sejak 2019, ia mulai menyisihkan gajinya tanpa sorotan kamera, tanpa dana program. Semua dilakukan dengan niat tulus menjawab jeritan warga yang kekurangan air bersih di sejumlah pelosok Kecamatan Tongkuno dan Tongkuno Selatan, Kabupaten Muna.

“Saya hanya berpikir begini, kalau saya bisa bantu, kenapa harus tunggu orang lain,” ungkap Ahmad Syamsul saat ditemui di sela kegiatannya, Rabu (30/7/2025).

Langkah pertamanya dimulai pada tahun 2020 di Dusun Labora, Desa Oempu, daerah terpencil yang dihuni sekitar 60 kepala keluarga. Daerah ini dikenal tandus dan berbatu, sehingga sumur tradisional tidak memungkinkan.

Dengan tekad bulat dan dana dari tabungan pribadi, Syamsul menggandeng tukang bor lokal dan memulai pengeboran yang berlangsung enam bulan, hingga menembus kedalaman 143 meter. Air pun menyembur keluar jernih, bersih, dan menyelamatkan.

Setelah sukses di Oempu, ia melanjutkan misi pada tahun 2022 di Desa Labasa, Kecamatan Tongkuno Selatan. Pengeboran kali ini dilakukan di halaman Masjid Darul Falah, setelah sumber air sebelumnya tercemar limbah domestik.

Air bor di Labasa kini tak hanya mengaliri kran wudu, tetapi juga rumah-rumah warga sekitar. Sumur ini mencapai kedalaman 52 meter, dan menjadi titik kedua dari rangkaian sumur bor yang dibangun tanpa satu rupiah pun dari kas negara.

Puncaknya terjadi pada Ramadan 2025, ketika Ahmad kembali tergerak oleh keluhan jemaah di Masjid Nurul Iman, Kelurahan Lawama. Dengan sisa tabungan dan bantuan kredit dari Bank BRI, ia kembali mendanai pengeboran. Dalam waktu tiga minggu, air kembali mengalir jernih dan layak minum.

“Kalau dihitung-hitung, sudah habis puluhan juta rupiah. Tapi yang saya kejar bukan angka, saya hanya ingin masyarakat bisa hidup lebih baik,” ungkapnya.

Total, sudah tiga titik sumur bor dibangun atas inisiatif Aiptu Ahmad Syamsul. Seluruhnya mandiri, tanpa proyek, tanpa proposal, hanya berbekal hati dan rasa tanggung jawab sebagai pelayan masyarakat.

Kini, ia tengah menyiapkan lokasi keempat. Jika tak ada halangan, ia berharap bisa membangun sumur baru di desa tetangga, sebelum musim kemarau mendatang.

“Saya hanya ingin, kalau nanti saya pensiun, ada sesuatu yang saya tinggalkan. Bukan pangkat, tapi manfaat,” tutupnya.

Kapolres Muna AKBP Indra Sandy Purnama Saksi turut mengapresiasi langkah anggotanya tersebut. Menurutnya, apa yang dilakukan Aiptu Ahmad Syamsul adalah potret ideal seorang Bhayangkara.

“Polri bukan hanya penjaga keamanan, tapi juga agen perubahan sosial. Apa yang dilakukan Aiptu Ahmad adalah bentuk nyata kepedulian yang layak ditiru,” katanya.

Di tengah perhatian publik terhadap institusi kepolisian, kisah Syamsul menjadi oase harapan bahwa seragam cokelat masih bisa menyimpan cinta, bahwa di balik badge itu masih ada tangan yang rela menggalang sumur kehidupan untuk rakyat kecil.

“Pada dasarnya kami sangat mengapresiasi, semoga kebaikan Ahmad Syamsul menjadi ladang pahala,” tandasnya.

Penulis: Arsya

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement