KENDARI, TERASSULTRA.COM – Cuaca ekstrem yang melanda Kota Kendari dalam sepekan terakhir mulai memunculkan kekhawatiran warga, terutama mereka yang bermukim di daerah rawan bencana.
Meski hujan deras mengguyur hampir setiap hari, kondisi Kelurahan Wawombalata, Kecamatan Mandonga, terpantau masih relatif aman. Namun demikian, kewaspadaan terus ditingkatkan menyusul insiden tanah longsor yang terjadi di RT 01 RW 01 pada Sabtu, 29 Juni 2025 malam.
Lurah Wawombalata, Sirajuddin mengatakan bahwa tanah longsor yang terjadi sekitar pukul 22.00 WITA itu sempat mengejutkan warga sekitar, meski tidak menimbulkan korban jiwa.

Warga saat menutup wilayah yang berpotensi longsor dengan menggunakan terpal. Foto Andri
“Alhamdulillah, longsor itu tidak menimbulkan korban jiwa. Tapi memang cukup mengkhawatirkan karena terjadi tiba-tiba saat malam hari, dan lokasinya memang dikenal rawan, terutama saat musim hujan seperti sekarang ini,” ungkap Sirajuddin kepada terassultra.com, Selasa (1/7/2025).
Menurutnya, karakteristik tanah di wilayah tersebut tergolong labil. Bila diguyur hujan dalam waktu lama, permukaan tanah mudah bergeser dan akhirnya longsor. Ia menyebutkan, kejadian itu berlangsung cepat dan sempat membuat warga panik.
“Kondisinya memang rawan. Tanahnya jika sudah jenuh karena hujan terus-menerus, bisa langsung bergerak. Tapi warga sudah kami edukasi sebelumnya untuk tetap siaga, jadi mereka tidak terlalu panik,” jelasnya.
Setelah kejadian, tim dari kelurahan bersama warga langsung melakukan penanganan darurat. Penutupan akses sementara dilakukan untuk mencegah risiko longsor susulan. Beruntung, lokasi yang terdampak sudah pernah mendapat bantuan tenda dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), sehingga proses evakuasi dan penanganan awal dapat segera dilakukan.

Warga terlihat rutin memantau lokasi rawan terjadi longsor. Foto Andri
“Sudah ada bantuan tenda dari BPBD, jadi kami langsung gunakan untuk menutup jalur yang berpotensi bahaya. Kalau dilihat dari volume material longsoran, mungkin sekitar 20 argo tanah,” imbuh Sirajuddin.
Meski begitu, ia memastikan bahwa titik-titik lain yang selama ini dikenal langganan banjir seperti di RT 5 dan RT 6 hingga saat ini masih dalam kondisi aman. Tidak ada laporan genangan, kerusakan, maupun pengungsian.
“Alhamdulillah, sejauh ini tidak ada laporan banjir dari warga. Bahkan di titik-titik rawan yang biasanya sering dikeluhkan, belum ada kejadian menonjol. Tapi kita tetap waspada,” katanya.
Untuk memperkuat koordinasi, pihak kelurahan langsung bergerak cepat menindaklanjuti instruksi Wali Kota Kendari, Siska Karina Imran, yang meminta seluruh lurah dan camat untuk memperkuat respons cepat terhadap bencana.

Lokasi rawan longsor telah ditutup dengan terpal. Foto Andri
Sirajuddin menyebut pihaknya telah mengaktifkan jalur komunikasi cepat antar-RT dan RW melalui grup WhatsApp sebagai media koordinasi darurat.
“Saat ada instruksi dari Ibu Wali Kota, kami langsung teruskan ke RT dan RW melalui grup WhatsApp. Ini sangat efektif untuk menyampaikan informasi terkini, termasuk potensi bencana. Kami minta agar semua ketua RT dan RW terus aktif memantau wilayahnya masing-masing, apalagi saat hujan deras turun,” ujarnya.
Menurutnya, langkah preventif lebih penting dilakukan sejak awal daripada harus menunggu hingga terjadi bencana yang lebih besar.
“Kami tidak ingin ada korban atau kerugian besar. Maka dari itu kami siaga 24 jam. Jika ada hal yang mencurigakan atau tanda-tanda longsor, saya minta warga segera melapor,” tegas Sirajuddin.
Dengan demikian, Sirajuddin mengimbau seluruh masyarakat agar tetap waspada selama musim hujan berlangsung. Ia meminta agar warga tidak menyepelekan kondisi lingkungan, terutama yang tinggal di lereng-lereng tebing atau bantaran sungai.
“Bencana bisa terjadi kapan saja, apalagi dengan curah hujan yang tak menentu. Jangan pernah anggap remeh. Tetap siaga dan mari kita hadapi ini bersama-sama. Mudah-mudahan kita bisa melewati musim penghujan ini tanpa ada korban,” tandasnya. (adv)


















Komentar