KENDARI, TERASSULTRA.COM – Genangan banjir yang belum sepenuhnya surut di kawasan Kali Wanggu, Kelurahan Lepo-Lepo, Kecamatan Baruga, Kota Kendari, mulai memunculkan ancaman baru bagi warga terdampak.
Di tengah kondisi pengungsian dan sanitasi yang terbatas, puluhan warga dilaporkan terserang penyakit kulit dan infeksi saluran pernapasan.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Tenggara (Sultra) menurunkan tim medis untuk berjaga selama 24 jam di lokasi pengungsian dan wilayah terdampak banjir. Selain memberikan layanan kesehatan, pemerintah mendistribusikan obat-obatan dan bantuan air bersih guna mencegah meluasnya penyakit pascabanjir.
Kepala Dinas Kesehatan Sultra, Andi Edy Surachmat, mengatakan tim medis menemukan sedikitnya 32 warga mengalami keluhan kesehatan sejak banjir meluas dalam dua hari terakhir.
“Keluhan yang paling banyak kami temukan adalah gatal-gatal akibat air banjir dan batuk karena kondisi cuaca serta lingkungan yang lembap,” jelasnya saat ditemui di posko kesehatan, Minggu (10/5/2026).
Petugas kesehatan kini disiagakan di sejumlah titik pengungsian untuk memastikan warga mendapatkan penanganan cepat.
“Tim medis kami tetap bersiaga penuh di posko. Obat-obatan dasar juga sudah kami distribusikan sesuai kebutuhan warga,” ungkapnya.
Banjir yang melanda kawasan Lepo-Lepo terus meluas. Jika pada Sabtu, 9 Mei 2026, jumlah warga terdampak tercatat 42 kepala keluarga atau 112 jiwa, sehari kemudian angkanya melonjak menjadi 225 kepala keluarga atau sekitar 685 jiwa.
Wilayah yang terdampak kini mencakup RT 03, RT 09, RT 12, RT 13, dan RT 14 di Kelurahan Lepo-Lepo. Sebagian warga memilih bertahan di rumah, sementara lainnya mengungsi ke Masjid At-Taubah yang dijadikan pusat pengungsian sementara.
Di lokasi itu, sekitar 150 pengungsi dari 30 kepala keluarga bertahan dengan fasilitas darurat. Pengungsi terdiri atas kelompok rentan, termasuk dua bayi, satu balita, dan tujuh lanjut usia.
Pemprov Sultra bersama sejumlah instansi lintas sektor terus mengintensifkan penanganan bencana. Dinas Sosial mendirikan tenda pengungsian dan dapur umum, BPBD menyiapkan perahu karet dan bantuan evakuasi, sedangkan Dinas Cipta Karya mendistribusikan air bersih menggunakan mobil tangki.
Penulis: Andri


















Komentar