KENDARI, TERASSULTRA.COM – Deru angin laut yang menerpa kawasan pesisir Kota Kendari, Jumat pagi, 29 Mei 2026, mengiringi langkah sejumlah pejabat negara memasuki lorong sempit permukiman warga. Di ujung lorong itu berdiri sebuah rumah semi permanen berdinding lapuk dan beratap seng berlubang milik Hatta Jumadia.
Rumah berukuran kecil itu dihuni tujuh orang anggota keluarga. Tidak ada kamar mandi. Tidak ada jamban. Untuk kebutuhan buang air besar, keluarga Hatta selama ini terpaksa memanfaatkan area laut di sekitar permukiman mereka.
Kondisi itulah yang membuat Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) RI, Maruarar Sirait, turun langsung meninjau lokasi bersama Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian dan Kepala BPS RI Amalia Adininggar Widyasanti.
Turut mendampingi rombongan, Wali Kota Kendari Siska Karina Imran, Wakil Wali Kota Kendari Sudirman, Wakil Ketua Komisi V DPR RI Ridwan Bae, serta Anggota Komisi V DPR RI asal Sulawesi Tenggara Ahmad Safei.

Wali Kota Kendari, Siska Karina Imran dampingi Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian dan Menteri PKP Maruarar Sirait mengecek rumah Hatta Jumadia di Kendari, Jumat (29/5/2026). Foto Andri
Di hadapan para pejabat, Hatta bercerita tentang kehidupannya yang bergantung pada pekerjaan memulung. Namun, kondisi kesehatannya yang terus menurun membuat penghasilannya tidak lagi menentu.
“Kerja pemulung, penghasilannya tidak menentu,” ungkap Hatta saat berdialog dengan Menteri PKP.
Percakapan singkat itu membuat suasana mendadak hening. Pemerintah kemudian membeberkan data Badan Pusat Statistik yang menunjukkan keluarga Hatta masuk kategori desil satu, yakni kelompok 10 persen masyarakat dengan tingkat kesejahteraan paling rendah di Indonesia.
Selain tinggal di rumah tak layak huni, keluarga itu juga belum memiliki akses sanitasi layak dan masih menumpang sambungan listrik dari rumah tetangga.
Menteri PKP Maruarar Sirait mengatakan kondisi tersebut menjadi gambaran nyata masih adanya masyarakat yang hidup di bawah standar kelayakan hunian.
“Kita ingin bantuan ini tepat sasaran. Kondisi rumah seperti ini memang sangat layak dibantu,” kata Maruarar.

Wali Kota Kendari, Siska Karina Imran dampingi menteri PKP Maruarar Sirait saat mengecek kondisi rumah Hatta Jumadia, Jumat (29/5/2026). Foto Andri
Kunjungan itu sekaligus menjadi bagian dari persiapan peluncuran Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) di Sulawesi Tenggara. Pemerintah pusat memastikan program bedah rumah benar-benar menyentuh warga yang paling membutuhkan.
Dalam kesempatan tersebut, Maruarar mengungkapkan adanya lonjakan signifikan kuota bantuan rumah layak huni di Sulawesi Tenggara pada 2026. Jika tahun sebelumnya hanya 1.123 unit rumah yang mendapat bantuan, tahun ini jumlahnya meningkat menjadi 8.843 unit.
Khusus Kota Kendari, kuota BSPS naik drastis dari 131 unit pada 2025 menjadi 548 unit pada 2026. Bahkan, setelah melihat langsung kondisi warga di lapangan, Menteri PKP memutuskan menambah kuota bantuan hingga sekitar 800 unit.
“Khusus Kendari saya naikkan lagi supaya semakin banyak masyarakat yang terbantu,” tutupnya.

Menteri PKP Maruarar Sirait menyampaikan akan menambah kuota bantuan rumah layak huni di Sulawesi Tenggara pada 2026, Jumat (29/5/2026). Foto Andri
Wali Kota Kendari, Siska Karina Imran, menyatakan pemerintah kota akan ikut mengawal penanganan rumah Hatta hingga tuntas. Selain mendukung proses bedah rumah, Pemkot Kendari juga menyiapkan opsi hunian rumah susun bagi keluarga tersebut.
“Pemerintah kota akan terus berkolaborasi dengan pemerintah pusat untuk mempercepat penanganan kawasan kumuh dan rumah tidak layak huni di Kendari,” bebernya.
Dukungan tambahan juga datang dari Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Ridwan Bae. Ia menyebut pembangunan rumah Hatta diperkirakan membutuhkan biaya sekitar Rp80 juta, sementara bantuan BSPS hanya sebesar Rp20 juta.
Karena itu, Ridwan memastikan akan membantu menutupi kekurangan anggaran agar pembangunan rumah dapat berjalan maksimal. Pengerjaan rumah Hatta ditargetkan mulai dilakukan pekan depan dan rampung pada Agustus 2026 bersamaan dengan penyelesaian BSPS tahap pertama di Kota Kendari. (adv)


















Komentar