SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berita Politik

Pengamat Politik: La Ode Darwin Dinilai Lawan Sepadan Herry Asiku di Musda Golkar Sultra

20230217 102510
Pengamat Politik Universitas Halu Oleo (UHO), Najib Husen saat memberikan keterangan. Foto Andri

KENDARI, TERASSULTRA.COM – Bursa pemilihan Ketua DPD I Partai Golongan Karya (Golkar) Sulawesi Tenggara (Sultra) kian menghangat jelang Musyawarah Daerah (Musda) XI. Nama Herry Asiku yang disebut-sebut akan kembali mencalonkan diri, kini mendapatkan tantangan serius dari La Ode Darwin, Bupati Muna Barat yang mulai diperhitungkan dalam konstelasi politik internal partai lambang pohon beringin itu.

Pengamat politik Universitas Halu Oleo (UHO), Najib Husen menilai La Ode Darwin adalah figur yang sepadan untuk menantang Herry Asiku dalam pertarungan politik tersebut. Namun, ia menyoroti bahwa kekuatan Darwin masih terletak pada sisi finansial, sementara dari sisi pengalaman di internal Golkar, Darwin dinilai masih minim.

“Secara kekuatan finansial, La Ode Darwin adalah lawan sepadan bagi Herry Asiku. Tetapi dari sisi pengalaman dalam tubuh Golkar, ia masih kurang. Meski begitu, kita tidak bisa menebak sikap para pemilik suara di Musda nanti,” ujar Najib saat dihubungi melalui sambungan telepon, Rabu (9/4/2025).

Najib juga menegaskan bahwa Golkar Sultra saat ini tidak berada dalam kondisi ‘bulat’ dalam menentukan arah kepemimpinan partai. Tidak ada sosok dominan seperti Ridwan Bae di masa lalu, yang mampu menyatukan semua elemen kekuatan partai secara solid.

“Setelah Ridwan Bae, belum ada lagi figur di Golkar Sultra yang benar-benar bisa menyatukan semua kepentingan internal. Ini yang membuat pertarungan di Musda kali ini menarik. Kekuatan terbelah,” jelasnya.

Lebih lanjut, Najib menyoroti bahwa pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) 2024 lalu, Golkar Sultra gagal menunjukkan tajinya. Meski dikenal sebagai partai mapan dengan struktur kuat hingga ke akar rumput, Golkar dinilai kurang maksimal dalam menggarap momentum elektoral tersebut.

“Sebagai partai elit, Golkar seharusnya bisa lebih menunjukkan taringnya. Tapi Pilgub kemarin bisa dibilang mereka kalah. Ini menjadi catatan penting dalam Musda nanti,” tambahnya.

Menurut Najib, ada sejumlah kader potensial lainnya yang juga layak diperhitungkan dalam Musda, di antaranya Ketua DPD II Konsel, Irham Kalenggo, Yusran Akbar, serta mantan Bupati Buton Utara Abu Hasan. Namun, bila mereka memilih merapat dan mendukung Herry Asiku, maka dukungan itu harus dibarengi dengan komitmen pembenahan partai.

“Kalau mereka mendukung Herry Asiku, maka pemilik suara harus memberi catatan serius. Terutama menyangkut peningkatan perolehan suara dan kursi Golkar ke depan. Jangan sekadar aklamasi tanpa evaluasi,” tegasnya.

Herry Asiku sendiri, lanjut Najib, dinilai masih memiliki pekerjaan rumah besar, terutama dalam membangun konsolidasi dan memperkuat militansi kader di daerah. Ia menyebutkan bahwa selama ini Herry terlalu sibuk dengan tugasnya sebagai legislator, sehingga terkesan kurang aktif turun ke lapangan.

“Banyak yang tidak kenal dia karena minim turun langsung. Padahal, tugas utamanya adalah menjaga dan membesarkan Golkar di daerah, bukan hanya mengurus legislatif,” jelasnya.

Jika terpilih kembali, menurut Najib, Herry Asiku tidak boleh memulai dari ‘nota kosong’. Harus ada catatan evaluatif dan target yang jelas, mulai dari jumlah kursi DPRD Sultra, kemenangan di Pilkada ke depan, hingga konsolidasi organisasi yang lebih merata dan efektif.

“Musda ini bukan sekadar formalitas. Harus jadi momentum koreksi dan penguatan. Jika tidak, Golkar akan terus tergerus oleh partai-partai baru yang lebih agresif,” tandasnya.

Penulis: Andri

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement