KENDARI, TERASSULTRA.COM – Mahasiswi S1 Akuntansi STIE Enam Enam Kendari, Indi Amrianti, meraih Juara II FORKESTRA 2026 yang diselenggarakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Tenggara (KPw BI Sultra).
Ia mengangkat persoalan akses jalan menuju Kendari New Port yang dinilai berdampak pada kelancaran logistik dan daya saing ekonomi daerah.
Dalam kompetisi tersebut, Indi mengajukan karya berjudul “Jalan Rusak, Ekonomi Tersendat: Revitalisasi Akses Kendari New Port untuk Ekosistem Ekonomi Sultra yang Inklusif, Mandiri, dan Berdaya Saing Global.”
Melalui karya itu, Indi menegaskan bahwa kerusakan jalan menuju pelabuhan bukan hanya persoalan infrastruktur. Hambatan akses dapat memperlambat distribusi barang, meningkatkan biaya logistik, dan mengurangi efisiensi kegiatan ekonomi.
“Apabila akses menuju pelabuhan belum optimal, tentu dapat menimbulkan hambatan seperti waktu tempuh yang lebih lama, biaya logistik yang meningkat, serta kurang optimalnya pergerakan barang dan aktivitas ekonomi. Dari situ saya melihat bahwa persoalan jalan bukan hanya persoalan infrastruktur, tetapi juga berkaitan dengan efisiensi ekonomi dan daya saing daerah,” jelasnya, Minggu (11/10/2026).
Ia memilih persoalan tersebut karena akses menuju Kendari New Port memiliki peran strategis dalam mendukung distribusi barang di Sultra. Kualitas infrastruktur jalan perlu dilihat dari dampaknya terhadap aktivitas ekonomi, termasuk kelancaran usaha dan kemampuan daerah bersaing.
Untuk menyusun gagasannya, Indi terlebih dahulu mengidentifikasi persoalan yang relevan dengan kondisi Sultra. Kemudian mengumpulkan data dan referensi, menganalisis dampaknya terhadap perekonomian, serta merumuskan alternatif solusi.
Naskah yang disusun juga melewati beberapa kali revisi untuk memperkuat argumentasi. Setelah itu, ia menyiapkan materi presentasi dan berlatih menyampaikan gagasan di hadapan dewan juri.
Indi mengakui, tantangan terbesarnya adalah membangun perspektif ekonomi dari persoalan yang kerap dipandang sebatas kerusakan jalan.
“Tantangan terbesarnya adalah bagaimana mengubah permasalahan yang terlihat sederhana, yaitu jalan rusak, menjadi sebuah gagasan yang memiliki perspektif ekonomi dan solusi yang jelas. Saya juga harus memastikan data dan argumen yang digunakan dapat mendukung gagasan tersebut,” katanya.
Menurut Indi, kekuatan karyanya terletak pada upaya menghubungkan persoalan infrastruktur dengan persoalan ekonomi yang lebih luas. Ia tidak berhenti pada kritik terhadap kondisi jalan, tetapi juga mengaitkannya dengan biaya logistik, distribusi barang, aktivitas pelaku usaha, dan daya saing Sultra.
Indi mengaku bersyukur atas capaian tersebut. Ia menyebut keikutsertaannya dalam FORKESTRA 2026 bukan semata-mata untuk meraih penghargaan, melainkan juga untuk menyampaikan persoalan daerah melalui gagasan yang dapat dipertimbangkan.
“Saya sangat bersyukur, senang, dan cukup tidak menyangka bisa meraih Juara II. Sejak awal tujuan saya bukan hanya mengejar juara, tetapi juga ingin membawa sebuah permasalahan yang ada di daerah menjadi sebuah gagasan yang bisa didengar dan dipertimbangkan,” ungkapnya.
Ia mengapresiasi KPw BI Sultra yang telah membuka ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan pemikiran mengenai persoalan ekonomi daerah. Indi juga menyampaikan terima kasih kepada dosen dan lingkungan kampus STIE Enam Enam Kendari yang mendukung proses penyusunan karya hingga presentasi.
Dalam kesempatan itu, Indi mengajak mahasiswa lain agar tidak menunggu sampai merasa sepenuhnya siap untuk mengikuti kompetisi. Menurut dia, keberanian mencoba merupakan bagian penting dari proses belajar dan pengembangan kemampuan.
“Jangan menunggu merasa benar-benar siap untuk mulai mencoba. Dari mengikuti kompetisi kita bisa belajar, mendapatkan pengalaman, dan menemukan kemampuan yang sebelumnya tidak kita sadari. Menang itu bonus, tetapi keberanian untuk mencoba adalah langkah pertama menuju prestasi yang lebih besar,” tutupnya.
Ketua Program Studi S1 Akuntansi STIE Enam Enam Kendari, Nita Hasnita turut mengapresiasi prestasi Indi. Ia menilai capaian tersebut menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam mengolah persoalan daerah menjadi gagasan yang memiliki nilai akademik dan relevansi bagi masyarakat.
“Prestasi ini tentu membanggakan dan menunjukkan bahwa mahasiswa kita mampu membawa persoalan daerah menjadi gagasan yang bernilai. Kami berharap capaian Indi dapat memotivasi mahasiswa lain untuk terus belajar, berani berkompetisi, dan menghasilkan prestasi,” tandasnya.
Penulis: Arsya


















Komentar