SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hukum

Mahasiswa Gelar Doa dan Aksi Simbolik di Polda Sultra, Sindir Kaburnya 11 Tahanan di Polres Kolut

Mahasiswa
Mahasiswa saat menggelar doa dan aksi simbolik di Polda Sultra, Selasa (7/7/2026). Foto Arsya

KENDARI, TERASSULTRA.COM – Aliansi Mahasiswa Nusantara (AMAN) Sulawesi Tenggara (Sultra) bersama Konsorsium Aktivis Nasional (KORAN) Sultra menggelar aksi simbolik di depan Markas Polda Sultra, Selasa, 7 Juli 2026.

Mereka menilai kaburnya 11 tahanan dari Rumah Tahanan Polres Kolaka Utara bukan sekadar insiden, melainkan cermin adanya persoalan serius dalam sistem pengamanan yang harus dipertanggungjawabkan secara terbuka.

Diketahui, aksi yang berlangsung sekitar dua jam itu diwarnai penyampaian orasi, pembentangan spanduk, hingga doa bersama sebagai bentuk kritik moral terhadap aparat penegak hukum.

Ketua AMAN Sultra, Firman, mengatakan pelarian 11 tahanan tidak boleh dianggap sebagai peristiwa biasa yang selesai setelah sebagian tahanan berhasil ditangkap kembali.

“Kaburnya 11 tahanan adalah alarm keras bagi institusi kepolisian. Yang dibutuhkan masyarakat pembenahan nyata. Kalau kejadian sebesar ini hanya dianggap insiden biasa, publik berhak mempertanyakan sejauh mana sistem pengamanan benar-benar bekerja,” jelasnya.

Menurutnya, informasi mengenai tahanan yang diduga meloloskan diri melalui ventilasi dengan memanfaatkan selang air dan sarung menunjukkan masih adanya celah pengamanan yang tidak bisa dipandang remeh.

Ia menegaskan, keberhasilan menangkap kembali sejumlah tahanan memang patut diapresiasi. Namun, hal itu tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan akar persoalan yang menyebabkan para tahanan bisa melarikan diri.

“Keberhasilan itu bukan ukuran utama. Ukuran sebenarnya adalah mengapa mereka bisa kabur. Kalau penyebabnya tidak dibongkar dan diperbaiki, kejadian serupa hanya tinggal menunggu waktu,” ungkapnya.

Untuk itu, Firman mendesak Polda Sultra melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengamanan rumah tahanan, termasuk prosedur penjagaan, kesiapan personel, fasilitas keamanan, hingga mekanisme pengawasan internal.

Sementara itu, Ketua KORAN Sultra, Alif, mengatakan masyarakat berhak memperoleh jaminan bahwa setiap tahanan berada dalam pengawasan negara secara maksimal. Menurut dia, peristiwa tersebut menyangkut kepercayaan publik terhadap institusi penegak hukum.

“Yang kabur jangan sampai bukan hanya tahanannya, tetapi juga kepercayaan masyarakat kepada kepolisian. Sekali kepercayaan itu hilang, memulihkannya jauh lebih sulit daripada menangkap kembali para tahanan,” urainya.

Ia menilai setiap kelemahan dalam sistem pengamanan harus dijawab dengan evaluasi yang transparan dan langkah perbaikan yang dapat diukur

“Publik tidak sedang menunggu alasan. Publik menunggu tindakan. Institusi sebesar kepolisian harus menunjukkan bahwa setiap kelalaian dievaluasi secara serius dan setiap kelemahan benar-benar diperbaiki,” tandasnya.

Untuk diketahui, menjelang berakhirnya aksi, para mahasiswa berkumpul di depan gerbang Polda Sultra untuk menggelar doa bersama.

Penulis: Arsya

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement