SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berita Pemerintahan Pemkot Kendari

Luncurkan Program Bedah Rumah, Wali Kota Kendari Ambil Langkah Nyata

FB IMG 1746589094017
Wali Kota Kendari, Siska Karina Imran saat pose bersama usai luncurkan program bedah rumah. Foto ist

KENDARI, TERASSULTRA.COM – Memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-194 Kota Kendari, Pemerintah Kota (Pemkot) Kendari meluncurkan program Peningkatan Kualitas Rumah Tidak Layak Huni atau yang dikenal dengan Bedah Rumah.

Kegiatan simbolis ini digelar di Kelurahan Nambo, Selasa (6/5/2025), sebagai bagian dari komitmen mewujudkan Kota Kendari yang lebih layak huni dan inklusif.

Wali Kota Kendari, Siska Karina Imran, yang hadir langsung dalam kegiatan tersebut, menegaskan bahwa program ini merupakan inisiatif murni Pemerintah Kota Kendari yang dibiayai sepenuhnya melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Kendari.

“Program ini memang selaras dengan arahan Presiden dan juga Gubernur Sulawesi Tenggara. Namun, kami di Kota Kendari menjalankannya sebagai program mandiri, lahir dari kebutuhan masyarakat dan didanai APBD,” bebernya.

Pada tahap awal pelaksanaan, sebanyak 20 unit rumah warga yang tidak layak huni akan dibedah dan diperbaiki. Proyek ini tersebar di 11 kecamatan se-Kota Kendari, dengan prioritas diberikan kepada warga dengan kondisi sosial dan ekonomi paling rentan.

“Berdasarkan data kami, ada sekitar 5.000 rumah tidak layak huni di Kota Kendari. Ini bukan angka kecil, dan saya merasa ini adalah tanggung jawab moral saya sebagai wali kota,” tegasnya.

Ia juga mengungkapkan rencananya untuk memperluas cakupan bantuan dengan menggandeng pemerintah pusat.

“Saya telah dijadwalkan bertemu Menteri Perumahan dan Wakil Ketua Komisi V DPR RI pada 20 Mei nanti. Harapannya, kita bisa mendapatkan dukungan tambahan untuk mempercepat penanganan masalah ini,” tambahnya.

Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Pertanahan Kota Kendari, Agus Salim menjelaskan bahwa pengerjaan rumah dilakukan secara cepat dengan metode gotong royong dan keterlibatan langsung warga.

“Setiap unit rumah hanya memerlukan waktu delapan hari kerja. Tim kami bekerja siang dan malam, didukung semangat dari para penerima bantuan dan masyarakat sekitar. Ini bukan hanya soal bangunan fisik, tapi juga tentang membangun solidaritas sosial,” tandasnya.

Penulis: Andri

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement