KONAWE UTARA, TERASSULTRA.COM – Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Konawe Utara (Konut), Samir melontarkan kritik keras terhadap aktivitas penambangan nikel oleh PT Sulawesi Cahaya Mineral (SCM). Ia menyebut perusahaan tersebut telah memberikan dampak serius terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat, terutama di wilayah Kecamatan Wiwirano.
Pernyataan ini disampaikan Samir sebagai respons atas komentar Wakil Ketua Komisi V DPR RI Ridwan Bae, yang sebelumnya menyebut kehadiran PT SCM serta perkebunan sawit turut menjadi penyebab banjir besar yang merendam jembatan penghubung desa di Padalere, Kecamatan Wiwirano, dan jalan umum Trans Sulawesi di Sambandete, Kecamatan Oheo.
“Hari ini saya sikapi PT SCM. Saya ini orang Wiwirano. Dulu orang tua kita cari ikan di Sungai Lalindu, airnya jernih, hasil tangkapan ikan melimpah. Sekarang airnya berubah jadi lumpur merah. Sungai tercemar, ikan hilang, dan warga kehilangan mata pencaharian,” tegas Samir, Selasa (15/4/2025).
Menurut Samir, limbah hasil aktivitas tambang PT SCM mengalir langsung ke sungai, menyebabkan pendangkalan, pencemaran air, dan kerusakan ekosistem sungai. Ia menyebut Sungai Lalindu yang menjadi sumber kehidupan masyarakat kini dalam kondisi kritis.
“Buangan limbah PT SCM hampir semua masuk ke sungai. Ekosistem rusak, habitat ikan terganggu. Sungai yang dulu jadi sumber hidup, kini jadi ancaman,” ujarnya.
Politisi Partai Hanura ini menambahkan, selain merusak lingkungan dan merampas mata pencaharian warga, aktivitas PT SCM juga memicu bencana banjir yang semakin parah. Pendangkalan sungai disebut sebagai salah satu faktor utama mengapa banjir cepat terjadi saat hujan turun, bahkan dalam hitungan satu jam saja.
“Jembatan penghubung antar desa di Padalere Utama bisa tenggelam hanya dalam satu jam hujan. Masyarakat terisolasi, dan ini rawan menimbulkan korban jiwa,” kata Samir dengan nada tinggi.
Ia juga menyoroti potensi kerusakan pada sejumlah objek wisata alam di Kecamatan Wiwirano dan sekitarnya, seperti Wisata Molora, yang menurutnya kini terancam akibat pencemaran air yang terus berlangsung.
“Saya ini orang Lamonae, saya tahu betul kondisi di lapangan. Dampaknya nyata dan kami rasakan langsung. Kalau dibiarkan, bukan hanya lingkungan yang hancur, tapi juga masa depan masyarakat,” ungkapnya.
Anggota DPRD empat periode ini juga mengingatkan bahwa seluruh wilayah Konut kini dalam kondisi rawan banjir akibat kerusakan lingkungan. Ia menegaskan bahwa PT SCM harus bertanggung jawab penuh atas dampak yang ditimbulkan oleh aktivitas tambangnya.
“Kalau hujan turun satu jam saja, Konawe Utara sudah banjir. Sungai berubah warna jadi merah berlumpur. Ini tidak bisa dianggap biasa. Semua saling berkaitan, dan jika dibiarkan, wilayah seperti Kuratua bisa tenggelam,” tandasnya.
Penulis: Andri


















Komentar