SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemerintahan

Kemenag Sultra Dorong Pemanfaatan Lahan Kosong untuk Ketahanan Pangan

Kanwil 5
Kepala Kanwil Kemenag Sultra saat menanam pohon mangga dalam rangka pemanfaatan lahan kosong. Foto Andri

KENDARI, TERASSULTRA.COM – Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) mulai menggulirkan langkah konkret dalam mendukung program ketahanan pangan nasional dan ekoteologi.

Kepala Kanwil Kemenag Sultra, Muhamad Saleh, mengimbau seluruh satuan kerja di bawah jajarannya agar memanfaatkan lahan kosong di lingkungan kantor, madrasah, hingga pesantren untuk kegiatan pertanian dan peternakan skala kecil.

“Langkah ini bukan sekadar menanam sayur, tapi membangun kesadaran baru bahwa lahan sekecil apapun bisa memberi manfaat bagi manusia dan lingkungan,” ungkap Saleh, di Kendari, Selasa (4/11/2025).

Menurutnya, upaya itu menjadi bagian dari komitmen Kemenag Sultra dalam mendukung Asta Cita Presiden Prabowo untuk memperkuat ketahanan pangan nasional serta sejalan dengan Program Prioritas Menteri Agama RI tentang Ekoteologi konsep yang menekankan harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas.

Muhammad Saleh menyebut, seluruh unit kerja di bawah Kemenag mulai dari Kantor Kemenag kabupaten kota, Kantor Urusan Agama (KUA), hingga madrasah dan pesantren diimbau untuk mengoptimalkan lahan menganggur yang mereka miliki.

“Pemanfaatannya bisa dalam bentuk pertanian sederhana seperti menanam cabai, tomat, kangkung, atau bayam. Tanaman-tanaman itu mudah dirawat, cepat panen, dan bisa langsung dimanfaatkan untuk kebutuhan dapur,” paparnya.

Selain pertanian, Kemenag juga membuka ruang bagi pengembangan peternakan kecil seperti unggas atau ikan air tawar skala rumah tangga, disesuaikan dengan kondisi lahan setempat.

“Kita tidak bicara industri besar, tapi kemandirian pangan di lingkungan kerja. Kecil, tapi berdampak,” tutunya.

Program ekoteologi yang diusung Kemenag bukan sekadar jargon hijau. Saleh menilai, gagasan itu harus dihidupkan lewat tindakan nyata di lapangan.

“Ekoteologi adalah bentuk ibadah sosial. Ketika kita menjaga bumi, kita sedang menjaga kehidupan,” bebernya.

Ia menekankan bahwa upaya penghijauan dan pemanfaatan lahan ini tidak hanya soal pangan, tapi juga bentuk tanggung jawab spiritual terhadap alam.

“Pegawai Kemenag harus menjadi contoh. Kantor bukan hanya tempat bekerja, tapi juga ruang belajar mencintai bumi,” tambahnya.

Selain memperkuat ketahanan pangan lokal, Saleh menjelaskan, hasil panen dan ternak dari tiap unit kerja bisa dikelola secara mandiri oleh komunitas pegawai.

“Ini bukan proyek besar, tapi gerakan gotong royong. Hasilnya bisa menambah gizi dapur pegawai, bahkan jadi tambahan ekonomi kecil untuk komunitas kantor,” ucapnya.

Dengan demikian, ia berharap seluruh level satuan kerja di Kemenag Sultra dapat menjadikan imbauan ini sebagai program prioritas, dijalankan secara swadaya, berkelanjutan, dan masif.

“Dengan begitu, Kemenag bukan hanya unggul secara administrasi, tapi juga berkontribusi nyata pada ketahanan pangan dan kelestarian lingkungan,” tandas Muhammad Saleh.

Penulis: Andri

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement