KONAWE UTARA, TERASSULTRA.COM – Kecelakaan kerja terjadi di area pertambangan di Konawe Utara. Seorang sopir dump truk dari PT Putra Uloe Mandiri (PUM), kontraktor PT Kelompok Delapan Indonesia (KDI), meninggal dunia dalam insiden yang terjadi di sekitar jalan hauling menuju Jetty PT Adhi Kartiko Pratama (AKP), Kecamatan Langgikima, Kabupaten Konawe Utara (Konut), pada Minggu (9/2/2025) sekitar pukul 11.30 WITA.
Peristiwa ini menambah daftar kecelakaan kerja di sektor pertambangan yang menjadi perhatian publik. Meski demikian, pihak PT PUM menegaskan bahwa mereka bertanggung jawab penuh atas kejadian ini.
Menanggapi insiden ini, perwakilan manajemen PT PUM, Kamal menyampaikan bahwa pihaknya telah bertemu dengan keluarga korban dan memastikan semua hak-hak korban telah diberikan sesuai aturan yang berlaku.
“Kami telah menyalurkan seluruh hak-hak korban, termasuk gaji dan tunjangan yang menjadi haknya. Selain itu, kami juga memberikan santunan sebagai bentuk tanggung jawab kami kepada keluarga yang ditinggalkan,” ujar Kamal saat dikonfirmasi, Rabu (12/2/2025).
Ia juga menegaskan bahwa keluarga korban menerima peristiwa ini dengan ikhlas dan memilih untuk tidak melakukan autopsi.
“Keluarga korban telah menerima musibah ini dengan lapang dada dan mereka menolak untuk dilakukan autopsi. Kami menghormati keputusan keluarga dan terus memberikan dukungan kepada mereka,” tambahnya.
Lebih lanjut, Kamal menegaskan bahwa PT PUM akan menjadikan insiden ini sebagai bahan evaluasi untuk memperketat sistem keselamatan kerja di lingkungan operasional perusahaan.
“Kami tidak menginginkan kejadian ini terjadi. Ini adalah musibah yang tidak bisa diprediksi. Namun, kami bertanggung jawab penuh atas insiden ini dan akan melakukan evaluasi serta pembenahan di berbagai aspek keselamatan kerja,” katanya.
Menurutnya, langkah-langkah perbaikan akan segera dilakukan untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang.
“Kami akan memperketat standar operasional prosedur (SOP) dan memastikan bahwa setiap pekerja memahami serta mematuhi protokol keselamatan yang telah ditetapkan. Keselamatan pekerja adalah prioritas utama kami,” tegasnya.
Kecelakaan kerja di sektor tambang terus menjadi sorotan, terutama terkait penerapan standar keselamatan kerja. Insiden seperti ini menjadi pengingat bagi seluruh perusahaan tambang untuk lebih serius dalam menerapkan regulasi keselamatan yang ketat.
Menurut berbagai sumber, faktor utama yang sering menyebabkan kecelakaan di area pertambangan meliputi kurangnya pengawasan terhadap prosedur operasional, kondisi jalan hauling yang tidak selalu ideal, serta kelelahan pekerja akibat jam kerja yang panjang.
Kamal menegaskan bahwa pihaknya akan terus berbenah agar tidak ada lagi korban jiwa di masa mendatang.
“Kami ingin memastikan bahwa setiap pekerja bisa bekerja dengan aman dan nyaman. Oleh karena itu, kami akan terus meningkatkan pengawasan, memberikan pelatihan keselamatan yang lebih intensif, serta mengevaluasi infrastruktur di lapangan,” katanya.
Publik berharap bahwa perusahaan tambang tidak hanya memberikan santunan, tetapi juga benar-benar meningkatkan sistem keselamatan kerja guna mencegah jatuhnya korban jiwa di masa depan.
“Kami sangat berduka atas kejadian ini dan berharap kejadian serupa tidak terulang. Kami akan terus berkomitmen untuk meningkatkan keselamatan kerja agar semua pekerja dapat pulang ke rumah dengan selamat setiap harinya,” tandas Kamal.
Penulis: Andri


















Komentar