SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemerintahan

Kapolda Sultra Siagakan Ribuan Personel Hadapi Bencana

Irjen 6
Polda Sultra dan instansi terkait saat melaksanakan apel kesiapsiagaan bencana. Foto Arsya

KENDARI, TERASSULTRA.COM – Kapolda Sultra Irjen Pol Didik Agung Widjanarko memimpin langsung Apel Kesiapsiagaan Bencana yang melibatkan 1.348 personel gabungan.

Apel besar ini menjadi simbol kesiapan seluruh unsur Forkopimda Sultra menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi, seiring peringatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tentang potensi La Nina yang diprediksi berlangsung hingga Februari 2026.

“Respons cepat dan tepat adalah kunci penyelamatan. Kita tidak boleh lengah, karena bencana datang tanpa kompromi,” tegas Irjen Didik dalam amanatnya.

Sinergi lintas sektor ini, kata Kapolda Irjen Pol Didik Agung Widjanarko menjadi bukti nyata kesiapan aparat menghadapi tantangan cuaca ekstrem di tengah transisi musim.

Menurut data BMKG, Indonesia kini memasuki puncak musim hujan yang diperkirakan berlangsung November 2025 hingga Januari 2026. Meski intensitas La Nina tahun ini tergolong lemah, fenomena itu tetap berpotensi meningkatkan curah hujan di atas normal, terutama di Kalimantan, Sulawesi bagian selatan, dan Papua.

“Kelemahan La Nina bukan berarti kita boleh mengendurkan kewaspadaan. Justru di sinilah peran kita diuji seberapa cepat dan terkoordinasi kita merespons,” paparnya.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, hingga Oktober 2025 telah terjadi 2.606 bencana di Indonesia, didominasi banjir dan cuaca ekstrem. Dampaknya tidak ringan, 361 orang meninggal dunia, 37 hilang, dan lebih dari 5,2 juta warga harus mengungsi.

“Angka itu bukan sekadar statistik. Di balik setiap korban, ada keluarga yang kehilangan, ada trauma yang membekas, ada kehidupan yang berubah selamanya,” paparnya.

Dalam kesempatan itu, Kapolda Irjen Pol Didik Agung Widjanarko menegaskan empat langkah strategis yang wajib diimplementasikan oleh jajaran dan pemangku kepentingan daerah:

– Deteksi dini dan pemetaan wilayah rawan bencana melalui kolaborasi aktif dengan BMKG dan pemerintah daerah.

– Memastikan kesiapan personel, peralatan evakuasi, dan logistik pendukung di seluruh wilayah Sultra.

– Melaksanakan simulasi tanggap darurat secara rutin agar respons lapangan tetap terukur dan cepat.

– Mengutamakan percepatan penanganan korban, mulai dari evakuasi, penyaluran bantuan, trauma healing, hingga rehabilitasi infrastruktur.

“Melindungi rakyat dari bahaya bencana bukan sekadar tugas, tapi panggilan moral dan pengabdian kemanusiaan. Ini adalah bukti cinta kita kepada bangsa,” tandasnya.

Penulis: Andri

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement