SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berita Ekobis Pemerintahan

Inflasi Kota Kendari Capai 1,39 Persen Secara Tahunan, Subsidi Listrik Habis Jadi Pemicu Kenaikan Harga

FB IMG 1744109021463
Asisten II Setda Kota Kendari, Jahudding saat memberikan keterangan terkait inflasi di Kendari. Foto ist

KENDARI, TERASSULTRA.COM – Inflasi year-on-year (y-o-y) Kota Kendari pada Maret 2025 tercatat sebesar 1,39 persen, sebagaimana diungkapkan dalam rilis resmi Indeks Harga Konsumen (IHK) oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Kendari, Selasa (8/4/2025). Kenaikan inflasi ini turut mendapat perhatian serius dari Pemkot Kendari, mengingat angka tersebut mencerminkan potensi tekanan terhadap daya beli masyarakat.

Dalam kegiatan yang digelar di Kantor BPS Kota Kendari itu, Asisten II Setda Kota Kendari, Jahudding mewakili Pemerintah Kota, hadir untuk menyimak langsung pemaparan data dan tren inflasi yang disampaikan Kepala BPS Kota Kendari, Sultriawati Efendy.

Dalam keterangannya, Jahudding menyampaikan bahwa lonjakan inflasi, khususnya inflasi bulan ke bulan (month-to-month) yang mencapai 1,74 persen, merupakan angka yang signifikan dibandingkan bulan sebelumnya yang hanya sebesar 0,47 persen.

“Jika kita melihat pergerakan dari Februari ke Maret, inflasi meningkat cukup tajam. Kenaikan ini salah satunya dipicu oleh berakhirnya subsidi pembayaran listrik dari pemerintah pusat yang sebelumnya dinikmati masyarakat selama dua bulan. Ini memberi efek domino pada kenaikan harga sejumlah kebutuhan,” ungkapnya.

Tak hanya itu, Jahudding juga menyoroti pengaruh dinamika global terhadap inflasi domestik. Menurutnya, kebijakan moneter dan fiskal dari negara-negara besar, terutama Amerika Serikat, bisa berdampak pada stabilitas harga di Indonesia, termasuk di daerah seperti Kendari.

“Dampaknya memang tidak langsung, tapi ketika kurs melemah atau biaya impor meningkat, maka secara perlahan kita akan rasakan juga. Karena itu, dibutuhkan antisipasi strategis sejak dini untuk meredam dampak lanjutan,” ujarnya.

Ia menambahkan, Pemkot Kendari segera akan menggelar rapat koordinasi bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), yang dipimpin langsung oleh Wali Kota Kendari, untuk merumuskan strategi dan langkah intervensi jangka pendek maupun menengah.

“Kita tidak boleh menunggu sampai dampaknya makin luas. Kami akan segera mengkonsolidasikan TPID agar dapat merespons perkembangan inflasi ini dengan langkah taktis yang menyentuh sektor paling terdampak,” tegas Jahudding.

Sementara itu, Kepala BPS Kota Kendari, Sultriawati Efendy, mengungkapkan bahwa kelompok pengeluaran yang paling berkontribusi terhadap inflasi y-o-y adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau, yang tercatat mengalami kenaikan sebesar 4,19 persen.

“Kenaikan ini dipengaruhi oleh beberapa komoditas utama seperti beras, cabai rawit, dan rokok kretek filter. Faktor musiman menjelang Ramadan juga menjadi pemicu lonjakan harga di pasar tradisional,” jelas Sultriawati.

Menurutnya, selain faktor musiman, pola konsumsi masyarakat yang meningkat selama periode Maret turut menambah tekanan terhadap harga-harga komoditas.

“Kami juga mencatat adanya kenaikan pada kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga. Ini berkaitan langsung dengan dihentikannya subsidi listrik. Dengan demikian, hampir semua kelompok mengalami peningkatan, meski dalam persentase yang bervariasi,” tambahnya.

Melihat tren yang terjadi Sultriawati sepakat bahwa pengendalian inflasi tidak bisa dilakukan secara sektoral. Perlu koordinasi erat antar-instansi dan pemangku kepentingan, terutama dalam menjaga stabilitas harga pangan dan ketersediaan pasokan barang kebutuhan pokok.

“Sinergi antara TPID, OPD teknis, dan stakeholder lainnya menjadi sangat krusial. Kami di BPS akan terus menyediakan data dan analisis sebagai dasar pengambilan kebijakan yang lebih tepat sasaran,” tandasnya.

Penulis: Andri

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement