KONAWE SELATAN, TERASSULTRA.COM – Keberadaan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Desa Aopa, Kecamatan Angata, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, terus menuai sorotan. Alih-alih melayani kebutuhan masyarakat, SPBU ini justru dituding menjadi episentrum praktik ilegal, termasuk dugaan penimbunan bahan bakar minyak (BBM) dan aksi arogan yang memicu konflik sosial.
Sejak beroperasi, SPBU Angata telah berkali-kali menjadi sasaran protes warga setempat. Demonstrasi berjilid-jilid yang digelar masyarakat tidak mampu menghentikan praktik yang diduga ilegal di tempat ini. Berbagai pernyataan komitmen yang ditandatangani pihak SPBU untuk menghentikan pelanggaran juga disebut hanya janji kosong.
Baru-baru ini, insiden penganiayaan yang melibatkan salah satu warga Desa Aopa, HM, kembali mencuatkan isu tersebut. Kejadian ini bermula ketika HM memergoki mobil pikap yang tengah memuat puluhan jeriken di area SPBU pada dini hari. Saat berusaha menegur, HM diduga mengalami kekerasan fisik.
Sekretaris Himpunan Mahasiswa Kecamatan Angata (Himakta), Erit Prasetya, menilai insiden ini adalah preseden buruk yang mempertegas dugaan lemahnya pengawasan di SPBU tersebut.
“Ini sudah keterlaluan. Masyarakat antre berjam-jam untuk mendapatkan Pertalite, tetapi di sisi lain, oknum tertentu bisa leluasa menimbun BBM. Bahkan, BBM sering habis secepat kilat,” tegas Erit, Senin (30/12/2024).
Erit juga mempertanyakan peran aparat penegak hukum yang dinilai abai terhadap isu ini. Ia bahkan menuding bahwa keberadaan mafia BBM didukung oleh oknum tertentu.
“Peristiwa seperti ini sudah berkali-kali terjadi. Jika polisi menyerah, lebih baik angkat tangan saja dan biarkan masyarakat yang bertindak,” jelasnya.
Menurut Erit, gesekan antarmasyarakat akibat kelangkaan BBM di SPBU ini sudah sering terjadi. Namun, respons aparat dianggap minim, sehingga memunculkan spekulasi bahwa mafia BBM mendapat “bekingan”.
“Wajar jika masyarakat menilai ada keterlibatan oknum aparat. Kalau tidak, bagaimana mungkin praktik ini terus terjadi. Slogan ‘Presisi’ itu hanya pepesan kosong,” sindir Erit.
Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, Kabid Humas Polda Sultra belum memberikan tanggapan atas insiden ini, meskipun telah dihubungi melalui pesan WhatsApp.
Penulis: Andri


















Komentar