SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
News

Di Kendari, Politik Mulai Dilirik Anak Muda

Najib
Pengamat Politik Najib Husen.

Oleh: La Ode Kadamu

Politik selama ini kerap dianggap dunia yang jauh dari anak muda. Penuh konflik, janji, dan kepentingan elit. Namun di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) perlahan muncul fenomena berbeda. Sejumlah pemuda mulai menunjukkan ketertarikan terhadap politik dan pemerintahan, setelah momentum politik beberapa tahun terakhir.

Seperti di warung kopi hingga kampus, pembahasan tentang kebijakan pemerintah, pemilihan kepala daerah, hingga isu korupsi mulai menjadi konsumsi generasi muda. Itu sebagai tanda tumbuhnya kesadaran politik di kalangan pemuda.

Pengamat Politik Sultra, Najib Husen, menilai minat pemuda terhadap politik di Kendari sebenarnya mengalami peningkatan dibanding beberapa tahun lalu. Perkembangan teknologi informasi membuat anak muda kini lebih mudah mengakses isu politik dan pemerintahan.

“Sekarang anak muda tidak lagi hanya menjadi penonton politik. Mereka mulai aktif mengikuti perkembangan kebijakan publik, bahkan ikut menyampaikan kritik melalui media sosial,” ungkapnya saat ditelepon melalui whatsappnya, Rabu (6/5/2026).

Perlu diketahui generasi muda saat ini memiliki karakter berbeda dibanding generasi sebelumnya. Mereka lebih kritis, terbuka, dan berani menyuarakan pendapat terhadap berbagai persoalan.

Meski demikian, Najib Husen yang juga Dosen FISIP di Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari itu menilai masih ada tantangan besar sehingga sebagian pemuda tetap menjaga jarak dari dunia politik. Salah satunya rendahnya kepercayaan terhadap elit politik akibat maraknya kasus korupsi dan konflik kepentingan.

“Banyak anak muda menganggap politik itu kotor. Ini yang membuat sebagian memilih apatis. Padahal politik sebenarnya menentukan masa depan mereka sendiri,” tegasnya.

Fenomena apatisme politik memang masih terlihat di kalangan mahasiswa dan pemilih pemula di Kendari. Sebagian mengaku lebih tertarik pada isu pekerjaan, bisnis digital, dan hiburan dibanding mengikuti dinamika politik lokal.

Namun di sisi lain, muncul komunitas diskusi di warung kopi, organisasi kepemudaan yang mulai aktif mengangkat isu lingkungan, pendidikan, dan transparansi pemerintahan. Hal itu merupakan bentuk partisipasi politik modern yang tidak selalu harus melalui partai politik.

“Hari ini politik tidak hanya soal menjadi caleg atau masuk partai. Ketika anak muda mengkritisi kebijakan pemerintah dan peduli terhadap persoalan daerah, itu bagian dari pendidikan politik,” jelasnya.

Kemudian Najib Husen menilai media sosial memiliki pengaruh besar dalam membentuk kesadaran politik generasi muda di Kendari. Informasi yang cepat membuat anak muda lebih mudah mengikuti isu nasional maupun lokal. Namun kondisi itu juga memiliki sisi negatif karena maraknya disinformasi dan propaganda politik.

Karena itu, ia berharap pendidikan politik bagi pemuda perlu diperkuat, baik melalui kampus, komunitas, maupun ruang diskusi publik yang sehat.

“Anak muda harus menjadi kekuatan pengawas demokrasi. Jangan hanya aktif saat pemilu, tetapi juga ikut mengawal kebijakan pemerintah setelah pemilihan selesai,” tandasnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement