SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berita

Perjalanan Terakhir Sri Yastin Asrun, Ribuan Pelayat Antar ke Peristirahatan Terakhir

Asrun
Asrun bersama keluarga menaburkan di pusara almarhumah Hj. Sri Yastin Asrun, usai prosesi pemakaman di Desa Puluwaru, Kecamatan Besulutu, Kabupaten Konawe, Selasa (16/6/2026). Foto Andri

KENDARI, TERASSULTRA.COM – Langit mendung seolah ikut mengiringi kepergian Hj. Sri Yastin Asrun. Ribuan pelayat memadati Desa Puluwaru, Kecamatan Besulutu, Kabupaten Konawe, Selasa (16/6/2026), untuk memberikan penghormatan terakhir kepada sosok yang selama hidupnya dikenal sebagai birokrat, penggerak perempuan, sekaligus tokoh sosial keagamaan di Sulawesi Tenggara (Sultra).

Kepergian Sri Yastin meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, dan masyarakat yang mengenalnya. Almarhumah mengembuskan napas terakhir pada Senin (15/6/2026) di RSUP Wahidin Sudirohusodo, Makassar, setelah menjalani perawatan.

Sebelum dimakamkan, jenazah almarhumah terlebih dahulu menjalani rangkaian prosesi adat Tolaki Mosehe Wonua, sebuah penghormatan adat yang sarat makna. Setelah disalatkan di Masjid Aljariah, jenazah kemudian diberangkatkan menuju tempat peristirahatan terakhirnya di tengah iringan doa dan linangan air mata para pelayat.

Suasana haru tak terbendung sepanjang prosesi pemakaman. Sejumlah anggota keluarga terlihat berusaha tegar, meski sesekali tak mampu menyembunyikan kesedihan saat melepas kepergian sosok yang selama ini menjadi panutan di tengah keluarga dan masyarakat.

Isak tangis pecah ketika jenazah perlahan diturunkan ke liang lahat, menandai berakhirnya perjalanan panjang pengabdian seorang Sri Yastin Asrun.

Bagi banyak orang, Sri Yastin bukan sekadar mantan pejabat. Ia adalah sosok yang dikenal dekat dengan masyarakat, aktif dalam berbagai kegiatan sosial, pemberdayaan perempuan, dan keagamaan. Kehadirannya selama puluhan tahun meninggalkan jejak yang tak mudah dilupakan.

Lahir di Kendari pada 3 Februari 1961, Sri Yastin mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk pelayanan publik. Kariernya di lingkungan Pemerintah Kota Kendari berakhir dengan jabatan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Kendari.

Ia pensiun dengan pangkat Pembina Utama Madya (IV/d), menutup perjalanan panjangnya sebagai aparatur sipil negara dengan catatan pengabdian yang dikenang banyak orang.

Di luar birokrasi, Sri Yastin juga dikenal luas saat mendampingi suaminya, H. Asrun, yang menjabat Wali Kota Kendari selama dua periode. Sebagai Ketua Tim Penggerak PKK dan Ketua Dekranasda Kota Kendari, ia aktif turun ke masyarakat, menggerakkan berbagai program pemberdayaan keluarga, perempuan, dan pelaku usaha kecil.

Kini, sosok yang selama ini akrab menyapa masyarakat itu telah berpulang. Namun bagi keluarga, sahabat, dan mereka yang pernah merasakan sentuhan pengabdiannya, nama Sri Yastin Asrun diyakini akan tetap hidup dalam kenangan sebagai perempuan yang mengabdikan hidupnya untuk melayani, mengayomi, dan memberi manfaat bagi banyak orang.

Rilis

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement