KENDARI, TERASSULTRA.COM – Lurah Talia, Rachmat Aboe Kasim, membantah keterlibatannya dalam persoalan yang terjadi di Kantor Kelurahan Poasia, Kecamatan Abeli, Kota Kendari. Kehadirannya di lokasi hanya untuk memenuhi undangan rekannya, Lurah Poasia, Zakir Muhamadong.
Rachmat menjelaskan, sebelum kejadian ia dihubungi Zakir melalui telepon dan diajak minum kopi di kantor kelurahan sebelum menonton kegiatan lomba masyarakat di Pulau Pandan. Undangan tersebut kemudian ia penuhi.
“Saya tiba di Kantor Kelurahan Poasia sekitar pukul 19.20 Wita dan duduk di teras bersama Pak Lurah Poasia,” kata Rachmat kepada wartawan, Minggu, 14 Juni 2026.
Sekitar 45 menit kemudian tambahnya, dua perempuan datang menggunakan jasa transportasi daring dan langsung masuk ke dalam kantor lurah. Saat itu, ia masih berada di teras kantor.
Namun, setelah mendengar suara pertengkaran dari dalam ruangan, ia mengaku diminta Zakir untuk masuk dan menemaninya.
“Saya mendengar ada keributan. Pak Lurah Poasia lalu mengajak saya masuk ke dalam kantor untuk menemani,” ungkapnya.
Keributan itu lanjutnya, bermula ketika seorang staf Kelurahan Poasia bernama Jimardin alias La Jima menghubungi salah satu perempuan yang kemudian datang ke kantor kelurahan.
Menurutnya, pertengkaran terjadi karena salah seorang perempuan meminta sejumlah uang kepada Lurah Poasia. Permintaan tersebut tidak dipenuhi sehingga memicu adu mulut.
“Ketika perempuan itu mulai ribut, Pak Lurah Poasia memanggil La Jima untuk memberikan klarifikasi. Tetapi saat La Jima datang, justru terjadi pertengkaran antara dia dan salah satu perempuan sehingga harus dilerai oleh Pak Lurah Poasia,” jelasnya.
Rachmat mengaku sempat berniat meninggalkan lokasi setelah melihat situasi memanas. Bahkan, ia telah mengenakan helm untuk pulang. Namun, niat itu urung dilakukan setelah diminta Zakir tetap berada di kantor.
“Saya sebenarnya sudah mau pergi. Helm sudah saya pakai. Tapi Pak Lurah Poasia meminta saya tetap tinggal untuk menemaninya menyelesaikan persoalan tersebut,” tegasnya.
Tak hanya itu, Ia membantah berbagai isu yang berkembang pascakejadian, termasuk tudingan adanya pesta minuman keras di Kantor Kelurahan Poasia. Tuduhan itu tidak terbukti dan telah diklarifikasi saat pemeriksaan di Polresta Kendari.
“Tidak benar ada pesta minuman keras. Itu sudah kami jelaskan saat pemeriksaan,” katanya.
Kemudian, Rachmat menepis dugaan adanya praktik prostitusi di kantor kelurahan sebagaimana beredar dalam sejumlah pemberitaan dan percakapan di masyarakat.
“Kalau dugaan prostitusi itu tidak benar. Sejak pertengkaran antara Pak Lurah Poasia dan perempuan tersebut berlangsung sampai warga datang, saya berada di dalam kantor dan menyaksikan langsung kejadian itu. Yang terjadi adalah pertengkaran, bukan seperti yang dituduhkan,” tandasnya.
Penulis: Arsya


















Komentar