SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemkot Kendari

Kendari Sambut Delegasi Asia Pasifik dengan Tari, Budaya, dan Promosi Wisata

Pemkot 28 1
Wali Kota Kendari, Siska Karina Imran kedua dari kiri bersama kepala daerah dan delegasi dari berbagai negara Asia Pasifik saat melaksanakan pembukaan UCLG ASPAC yang digelar di Kota Kendari, Jumat (8/5/2026). Foto Andri

KENDARI, TERASSULRA.COM – Gemerlap lampu dan denting musik tradisional menyambut para delegasi internasional saat memasuki ruang utama pelaksanaan 2026 UCLG ASPAC Executive Bureau Meeting and Asia-Pacific Forum di Kota Kendari, Jumat, 8 Mei 2026.

Di atas panggung, puluhan penari lokal membawakan tarian nusantara dengan kostum berwarna-warni, memperlihatkan wajah Indonesia sebagai negeri maritim yang kaya budaya.

Forum internasional yang mempertemukan kepala daerah dan delegasi dari berbagai negara Asia Pasifik itu tak hanya menjadi ajang diplomasi antar kota, tetapi juga panggung bagi Kota Kendari dan Sulawesi Tenggara (Sultra) memperkenalkan identitas daerah kepada dunia.

Sejumlah delegasi asing tampak mengabadikan pertunjukan pembuka menggunakan telepon genggam mereka. Beberapa di antaranya terlihat berdiri mendekati panggung untuk merekam tarian yang memadukan unsur budaya Sultra dan tradisi nusantara lainnya.

Wakil Menteri Dalam Negeri RI, Akhmad Wijayagus, mengatakan forum UCLG ASPAC memiliki arti strategis di tengah tantangan global yang dihadapi banyak negara, mulai dari perubahan iklim hingga ketimpangan pembangunan.

“Pertemuan ini adalah momentum penting memperkuat solidaritas internasional dalam menghadapi tantangan pembangunan dunia,” ungkapnya.

Ia menilai Indonesia memiliki posisi penting sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 17 ribu pulau dan kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Kondisi itu menjadi modal besar dalam membangun sektor pariwisata berkelanjutan.

Namun, kata dia, kekuatan Indonesia bukan hanya pada bentang alamnya. Keragaman budaya yang tersebar di berbagai daerah disebutnya sebagai identitas utama yang tidak dimiliki banyak negara lain.

“Indonesia adalah laboratorium budaya dunia. Ada lebih dari 1.200 suku bangsa dengan tradisi yang masih hidup sampai hari ini,” bebernya.

Menurut Akhmad, pembangunan sektor pariwisata harus menempatkan budaya lokal sebagai fondasi utama. Wisatawan tidak cukup hanya disuguhi panorama alam, tetapi juga perlu memahami nilai, tradisi, dan kehidupan masyarakat setempat.

Selanjutnya, ia memberikan apresiasi kepada Pemkot Kendari karena melibatkan sumber daya lokal dalam penyelenggaraan forum internasional tersebut.

“Semua penarinya dari Kota Kendari dan penyelenggaraannya juga menggunakan kemampuan lokal. Ini membuktikan daerah mampu menjadi tuan rumah event internasional,” tuturnya.

Sementara itu, Wali Kota Kendari, Siska Karina Imran, mengatakan UCLG ASPAC menjadi kesempatan penting memperluas jejaring internasional sekaligus memperkenalkan Kota Kendari kepada dunia.

“Hari ini kami tidak hanya membuka pintu kota kami, tetapi juga membuka hati kami. Kehadiran para delegasi adalah bentuk kepercayaan yang sangat berarti bagi Kota Kendari,” tegasnya.

Ia menegaskan Pemkot Kendari hadir dalam forum tersebut bukan untuk menunjukkan bahwa daerahnya paling maju, melainkan membawa semangat belajar dan membangun kolaborasi bersama kota-kota lain di kawasan Asia Pasifik.

Menurut dia, konsep pariwisata berkelanjutan bukan sekadar berbicara soal pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menyangkut tanggung jawab menjaga lingkungan dan budaya lokal agar tetap lestari di tengah arus pembangunan.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal United Cities and Local Governments Asia-Pacific, Bernadia Irawati Tjandradewi, menilai pemerintah daerah memiliki peran paling penting dalam menjaga kualitas destinasi wisata di kawasan Asia Tenggara yang kini berkembang pesat.

“Pemerintah daerah adalah ujung tombak pengelolaan destinasi wisata, mulai dari kebersihan, keamanan, sampai memastikan masyarakat memperoleh manfaat ekonomi,” paparnya.

Ia menyorti tingginya pertumbuhan perjalanan wisata domestik di Indonesia yang disebut mencapai lebih dari satu miliar perjalanan sepanjang 2025. Angka tersebut, menunjukkan sektor pariwisata telah menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat daerah.

Di forum yang sama, Wakil Gubernur Sultra, Hugua, memanfaatkan kesempatan itu untuk memperkenalkan kekayaan wisata dan budaya bumi anoa kepada para delegasi asing.

Ia menyebut Sultra memiliki potensi wisata bahari yang besar, mulai dari Pantai Nambo, Air Terjun Moramo, hingga Pulau Labengki yang dikenal memiliki keindahan bawah laut.

Tak hanya itu, mantan Bupati Wakatobi itu memperkenalkan budaya khas Pulau Muna melalui tradisi layang-layang Kaghati Kolope yang disebut sebagai salah satu layang-layang tertua di dunia.

“Kami berharap forum ini menjadi pintu bagi Sultra untuk semakin dikenal dunia internasional,” tandasnya.

Penulis: Andri

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement