SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemkot Kendari

Uji Coba Sumur Irigasi di Labibia, Petani Tak Lagi Bergantung Hujan

Pemkot 25
Uji coba sumur JIAT di Labibia. Foto Andri

KENDARI, TERASSULTRA.COM – Upaya mengurangi ketergantungan petani terhadap curah hujan mulai diuji di Kota Kendari. Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi IV melakukan uji coba pengaliran Sumur Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) di Kelurahan Labibia, Kecamatan Mandonga, Senin, 20 April 2026.

Uji coba ini menjadi titik penting bagi lahan pertanian setempat yang selama ini bergantung pada musim hujan. Dengan sistem irigasi berbasis air tanah, petani diharapkan dapat menanam lebih dari sekali dalam setahun.

Kegiatan tersebut dihadiri perwakilan BWS Sulawesi IV, Dinas Pertanian Kota Kendari, pemerintah kelurahan, aparat keamanan, serta kelompok tani setempat.

Lurah Labibia, Rahman, menyebut fasilitas ini sebagai harapan baru bagi petani.

“Selama ini petani hanya mengandalkan hujan. Dengan adanya sumur ini, mereka punya kepastian air untuk mengelola lahannya,” ungkapnya.

Diketahui, sumur JIAT yang diuji coba merupakan infrastruktur pengairan yang mulai dibangun pada Oktober 2025 dan rampung pada Desember 2025. Fasilitas ini dirancang untuk mengairi sawah tadah hujan yang sebelumnya memiliki keterbatasan produksi.

Kepala Dinas Pertanian Kota Kendari, Imran Ismail, mengatakan pemerintah pusat melalui BWS Sulawesi IV memberikan dukungan konkret untuk sektor pertanian daerah. Penyerahan resmi fasilitas tersebut, kata dia, dijadwalkan pada akhir April 2026.

“Penyerahan ini akan dilakukan langsung oleh Kepala Balai kepada Wali Kota Kendari. Ini menjadi bentuk dukungan nyata pemerintah pusat dalam penguatan sektor pertanian,” paparnya.

Di lokasi tersebut terdapat satu kelompok tani beranggotakan 18 orang yang mengelola lahan seluas sekitar 35 hektare. Selama ini, produktivitas lahan terbatas karena hanya dapat ditanami saat musim hujan.

Dengan teknologi JIAT, air tanah dalam dipompa melalui sumur bor untuk memenuhi kebutuhan irigasi. Sistem ini dinilai efektif untuk wilayah dengan curah hujan yang tidak menentu.

“Dengan ketersediaan air yang lebih stabil, petani bisa meningkatkan intensitas tanam dan hasil produksi,” kata Imran.

Dengan demikian, ia berharap keberadaan fasilitas ini tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan daerah. Di tengah tantangan perubahan iklim, ketersediaan air menjadi faktor kunci dalam menjaga keberlanjutan sektor pertanian.

“Jika uji coba berjalan optimal, model irigasi berbasis air tanah ini akan diperluas ke wilayah lain di Kota Kendari dengan karakteristik serupa,” tandasnya.

Penulis: Andri

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement