KENDARI, TERASSULTRA.COM – Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra), Andi Sumangerukka, memberi perhatian terhadap polemik layanan transportasi di Bandara Halu Oleo yang belakangan menuai keluhan masyarakat dan sorotan sejumlah kelompok mahasiswa.
Andi Sumangerukka mengatakan telah menerima laporan terkait persoalan tersebut dan berjanji akan mengecek langsung kendala yang terjadi di lapangan.
“Sudah ada laporan ke saya. Nanti kita cek dulu di mana kendalanya. Kalau memang ada yang tidak sesuai, tentu akan kita sesuaikan,” jelasnya kepada wartawan di Kendari, Sabtu (7/3/2026).
Pernyataan itu disampaikan di sela kegiatan inspeksi mendadak harga dan stok bahan pokok menjelang Idul Fitri. Ia menegaskan pemerintah daerah akan mencari solusi agar layanan transportasi di bandara dapat memberikan kenyamanan bagi masyarakat maupun wisatawan yang datang ke Sultra.
“Yang jelas kita ingin layanan transportasi di bandara itu tertib dan memberikan kenyamanan bagi masyarakat serta tamu yang datang ke daerah ini,” tegasnya.
Polemik transportasi di Bandara Halu Oleo sebelumnya disoroti Ikatan Mahasiswa Aktivis Lintas Kampus. Organisasi mahasiswa itu menilai pengelolaan transportasi di bandara belum berjalan baik.
Ketua IMALAK Sultra, Ali Sabarno, mengatakan pihaknya menerima berbagai keluhan dari sopir maupun masyarakat terkait pengelolaan koperasi transportasi di bandara.
“Dari informasi yang kami dapatkan, untuk menjadi sopir atau mendaftarkan mobil ke koperasi dikenakan biaya Rp2 juta. Selain itu ada iuran sekitar Rp500 ribu setiap bulan,” urainya.
Ia juga menyentil tidak adanya sistem antrean yang jelas bagi sopir dalam mengambil penumpang di area bandara.
“Bandara Halu Oleo adalah wajah Sultra. Kalau penumpang melihat sopir berebut penumpang hingga berpotensi menimbulkan keributan, tentu ini menjadi citra yang tidak baik bagi daerah,” paparnya.
Selain itu, ia mempertanyakan tidak beroperasinya layanan transportasi daring seperti Grab maupun Maxim di kawasan bandara.
“Di banyak bandara lain transportasi online tersedia. Tapi di Bandara Halu Oleo tidak ada. Ini menimbulkan pertanyaan, ada apa sebenarnya,” bebernya.
Tak hanya itu, ia juga mengungkap adanya informasi dugaan intimidasi terhadap sopir transportasi online yang mencoba mengambil penumpang di kawasan bandara.
“Kami mendapatkan laporan ada sopir transportasi online yang mendapat persekusi bahkan denda hanya karena mengambil penumpang di bandara, termasuk yang hanya menjemput keluarga atau temannya sendiri,” ungkapnya.
Menurut Ali, persoalan tersebut perlu segera ditangani agar tidak terus menimbulkan polemik.
“Kalau perlu koperasi yang mengelola transportasi itu diaudit, supaya jelas ke mana saja aliran pungutan dari para sopir,” katanya.
Keluhan mengenai layanan transportasi di Bandara Halu Oleo juga sempat viral di media sosial. Sebuah video yang diunggah akun TikTok @milop.dessert memperlihatkan seorang penumpang mengeluhkan sulitnya mendapatkan transportasi online setelah tiba di bandara.
Dalam video tersebut, penumpang mengaku harus membayar tarif hingga Rp150 ribu untuk perjalanan menuju hotel di Kota Kendari karena tidak tersedianya layanan transportasi daring.
Menanggapi hal itu, Humas Bandara Halu Oleo, Nurlansyah, menegaskan pengelolaan transportasi penumpang di kawasan bandara bukan berada di bawah kewenangan pihak bandara.
“Terkait layanan transportasi penumpang seperti rental atau Grab, itu bukan kewenangan pihak bandara. Wilayah tersebut masih menjadi kewenangan Lanud,” paparnya.
Sementara itu, Kepala Penerangan Lanud Halu Oleo, Yusuf, menjelaskan layanan transportasi daring belum diperbolehkan beroperasi di kawasan Lanud karena belum adanya kerja sama resmi.
“Grab tidak diperbolehkan masuk karena sampai saat ini belum ada kerja sama. Di bandara sudah ada taksi resmi yang memiliki kerja sama,” tandasnya.
Penulis: Arsya


















Komentar