TERASSULTRA.COM – Ratusan mahasiswa di Kota Kendari diajak tak berhenti pada hafalan lima sila Pancasila. Mereka didorong menjadi relawan yang menerapkan nilai-nilai Pancasila lewat kegiatan sosial dan aksi nyata di tengah masyarakat.
Ajakan itu disampaikan dalam kegiatan Penguatan Relawan Gerakan Kebajikan Pancasila Bersama Masyarakat yang digelar BPIP bersama Komisi XIII DPR RI di salah satu hotel di Kendari, Kamis (27/8/2026).
Anggota Komisi XIII DPR RI Ali Mazi membuka kegiatan tersebut. Turut hadir Analis Kebijakan Ahli Madya BPIP Galuh Ibrahim dan sejumlah akademisi UHO.
Galuh mengatakan perkembangan teknologi membawa banyak kemudahan. Namun, di sisi lain, muncul sejumlah persoalan yang perlu dihadapi generasi muda.
“Pancasila merupakan pandangan hidup, penuntun etika, dan moral dalam kehidupan bermasyarakat di tengah keragaman suku, budaya, agama di Sulawesi Tenggara,” kata Galuh.
Dia menyebut hoaks, ujaran kebencian, perjudian online, narkoba hingga persoalan etika menjadi tantangan yang tidak bisa dilepaskan dari perkembangan zaman.
Karena itu, nilai Pancasila dinilai harus menjadi pegangan dalam kehidupan sehari-hari.
Galuh menegaskan relawan Gerakan Kebajikan Pancasila tidak dibentuk hanya untuk memahami teori.
“Tugas relawan bukan sekadar menghafal lima sila dalam Pancasila, tetapi membumikan nilai-nilai tersebut dalam tindakan nyata,” tegasnya.
Menurutnya, relawan bisa mengambil peran sederhana di lingkungan masing-masing. Misalnya membantu warga yang tertimpa musibah, ikut meredam konflik, hingga membuat kegiatan positif bagi anak muda.
“Ketika ada warga tertimpa musibah, relawan hadir membawa senyum. Ketika ada potensi konflik atau gesekan sosial, relawan hadir membawa kedamaian dan energi toleransi,” ujarnya.
BPIP berharap kegiatan tersebut tidak berhenti setelah acara selesai. Mahasiswa dan organisasi kepemudaan didorong membangun pusat penggerak kebangsaan sebagai ruang untuk menjalankan kegiatan sosial dan gotong royong.
“Kami dari BPIP berharap mari kita jadikan pertemuan hari ini bukan sekadar seremoni, melainkan awal gerakan perubahan yang berdampak nyata,” kata Galuh.
Ali Mazi: Jangan Bosan Amalkan Pancasila
Ali Mazi mengatakan pengamalan Pancasila harus terus dilakukan. Dia menyebut Pancasila menjadi fondasi yang menjaga Indonesia tetap utuh meski masyarakatnya memiliki perbedaan.
“Kita belajar Pancasila, mengamalkan Pancasila tentu tidak boleh bosan-bosan. Karena itu ada di dalam kehidupan semua warga bangsa,” ujarnya.
Menurut Ali Mazi, Pancasila menjadi perekat yang menjaga harmonisasi masyarakat dari Sabang sampai Merauke.
Dia juga meminta generasi muda mengambil peran dalam menjaga nilai tersebut. Mahasiswa, kata dia, memiliki posisi penting untuk membawa semangat kebangsaan ke lingkungan kampus dan masyarakat.
Ali Mazi kemudian menyinggung potensi Sultra yang dinilainya sangat besar. Mulai dari sumber daya manusia hingga sektor pertambangan, kehutanan, kelautan, perikanan dan pariwisata.
“Di Sulawesi Tenggara adalah negeri yang paling kaya. Kita punya sumber daya manusia, kita punya sumber daya alam, kita memiliki tambang, hutan, laut, pariwisata, perikanan, semua ada di Sulawesi Tenggara,” katanya.
Dia menekankan seluruh potensi tersebut harus dikelola secara baik dan benar agar memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Tinggal sekarang bagaimana kita menghayati dan mengamalkan Pancasila, sehingga semuanya dikelola dan dimanajemen secara baik dan benar,” imbuhnya.
Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi panel yang menghadirkan akademisi UHO, yakni Dr. Idaman Alwi dan Irwansyah dari Fakultas Hukum UHO.
BPIP dan Komisi XIII DPR RI berharap kegiatan tersebut melahirkan relawan yang aktif menyebarkan nilai kebajikan Pancasila melalui aksi sosial, gotong royong dan penguatan toleransi.
Redaksi


















Komentar