KENDARI, TERASSULTRA.COM – Upaya pencegahan radikalisme di tubuh kepolisian kembali ditegaskan oleh Polda Sulawesi Tenggara (Sultra) lewat kegiatan penyuluhan yang digelar di Aula Dhacara Polda Sultra, Rabu (17/9/2025). Kegiatan ini menghadirkan narasumber Ali Fauzi Manzi, mantan teroris yang kini bertransformasi menjadi pejuang perdamaian.
Dengan tema “Merajut Hidup dari Lingkaran Bom Menuju Lingkar Perdamaian”, Ali Fauzi membagikan kisah hidupnya yang pernah bergelut dalam jaringan radikal hingga akhirnya memilih jalan damai.
“Radikalisme tidak hanya merusak diri sendiri, tapi juga merusak lingkungan sosial dan masa depan generasi. Karena itu, kita semua, termasuk aparat, punya tanggung jawab bersama untuk menutup ruang bagi paham ini,” tegas Ali Fauzi di hadapan ratusan personel Polri dan Non PNS (PNPP) Polda Sultra.
Ia menekankan, radikalisme kerap menyasar kelompok muda melalui doktrin yang menyesatkan. Karena itu, peran aparat sangat vital untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat.
“Deradikalisasi bukan sekadar program, tapi kerja kemanusiaan. Saya adalah bukti nyata bahwa seseorang bisa keluar dari lingkaran kekerasan menuju jalan damai,” ungkapnya.
Kepala Biro SDM Polda Sultra, Kombes Pol Arie Fitrianto menjelaskan bahwa menghadirkan mantan pelaku yang kini menjadi agen perdamaian adalah pendekatan strategis agar personel lebih mudah memahami realitas bahaya radikalisme.
“Pendekatan seperti ini lebih menyentuh. Personel bisa belajar langsung dari pengalaman nyata, sehingga pemahaman mereka bukan hanya teoritis, tapi juga emosional. Harapannya, wawasan ini bisa diterapkan saat bertugas di lapangan,” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, pihaknya berharap seluruh personelnya memiliki pemahaman komprehensif tentang bahaya radikalisme, serta mampu menjadi garda terdepan dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas).
“Kami ingin Polri tidak hanya kuat di bidang penegakan hukum, tapi juga memiliki kapasitas pencegahan. Karena radikalisme adalah musuh bersama yang harus kita lawan dengan pengetahuan, kesadaran, dan tindakan nyata,” tandasnya.
Penulis: Arsya


















Komentar