SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hukum

KSOP Kendari Ungkap Manifes Tak Akurat, Penumpang Tanpa Tiket Masih Lolos

Ksop
Kepala KSOP Kelas IIA Kendari, Capt. Rahman saat pose bersama usai melaksanakan monitoring di Pelabuhan Nusantara. Foto Andri

KENDARI, TERASSULTRA.COM – Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas IIA Kendari menggelar kegiatan monitoring menyeluruh di Pelabuhan Nusantara Kendari, Selasa (15/7/2025). Kegiatan ini bertujuan memastikan keselamatan dan keamanan pelayaran di kawasan pelabuhan utama Kota Kendari berjalan sesuai standar operasional.

Dalam kegiatan itu, KSOP Kendari menggandeng berbagai instansi terkait seperti Polsek Kawasan Pelabuhan (KP3), Basarnas, Dinas Perhubungan, Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM), dan unsur lainnya.

Kepala KSOP Kelas IIA Kendari, Capt. Rahman, mengatakan bahwa aspek keselamatan dan keamanan pelayaran tidak dapat ditawar, namun tidak akan maksimal tanpa kerja sama lintas instansi.

“Kita harus bergandengan tangan agar pelayaran berjalan lancar dan penumpang tiba dengan selamat di tujuan,” ujar Capt. Rahman di sela kegiatan monitoring.

Namun, dari hasil pemantauan tersebut, KSOP Kendari menemukan berbagai pelanggaran dan kelemahan dalam pengelolaan arus keberangkatan dan kedatangan kapal, yang dinilai berpotensi membahayakan keselamatan pelayaran.

Salah satunya adalah sistem pembelian tiket yang seharusnya telah berbasis online, namun di lapangan masih dijumpai praktik penjualan tiket secara manual. Lebih parahnya, KSOP mendapati masih ada penumpang yang naik ke kapal tanpa tiket resmi.

“Kondisi ini sangat berisiko. Pintu keluar yang juga dijadikan pintu masuk membuat pengawasan tidak maksimal. Akibatnya, masih ditemukan penumpang yang naik tanpa tiket,” ungkapnya.

Pintu timur pelabuhan yang seharusnya steril dari kendaraan, kata Capt. Rahman, juga masih sering dilalui oleh mobil penjemput yang tidak seharusnya masuk ke area tersebut.

Hal yang lebih mengkhawatirkan adalah ketidaksesuaian antara data manifes yang disetor kepada KSOP dengan jumlah penumpang yang sebenarnya berada di atas kapal.

“Manifes yang kami terima selalu tidak sesuai dengan kenyataan. Ini berbahaya. Jika terjadi sesuatu, siapa yang bertanggung jawab atas penumpang gelap ini,” tegas Capt. Rahman.

Ia juga menekankan pentingnya pencatatan penumpang bayi. Menurutnya, semua penumpang termasuk bayi harus memiliki tiket sendiri agar terdata dengan baik.

“Kalau terjadi kecelakaan atau insiden, yang dihitung itu jumlah penumpangnya. Bayi pun harus tercatat,” tambahnya.

Tak hanya itu, Capt Rahman KSOP juga menyoroti tentang keberadaan pedagang yang masih berkeliaran di area pelabuhan hingga naik ke dalam kapal. Selain itu, kondisi kapal yang penuh sesak membuat kenyamanan dan keselamatan penumpang menjadi taruhannya.

“Kondisi di atas kapal sangat padat. Penumpang harus berdesakan. Bahkan, kapal sudah lepas tali, masih ada penumpang yang melompat naik. Ini sangat membahayakan,” kata Capt. Rahman.

Dengan demikian, Capt. Rahman mengajak seluruh pihak terkait untuk berbenah dan menegakkan aturan yang berlaku, demi menciptakan pelayaran yang aman, tertib, dan manusiawi.

“Kita semua harus peduli. Ini bukan soal siapa yang salah, tapi bagaimana kita bisa memperbaiki sistem yang ada. Keselamatan adalah tanggung jawab bersama,” tandasnya.

Penulis: Andri

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement