SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Opini

Pemimpin Tanpa Singgasana

Ismed
Pakar Manajemen Strategik, Dr. La Ismeid. Foto ist

Oleh: Dr. La Ismeid/ Pakar Manajemen Strategik

OPINI – Ada yang mengira singgasana adalah puncak kemuliaan, padahal ia hanya tempat sementara bagi seseorang yang sedang diberi kepercayaan. Di ketinggian kekuasaan, pujian mudah terdengar seperti kesetiaan, penghormatan kerap disalahartikan sebagai ketulusan, dan orang-orang yang mengelilingi kita seolah menjadi bukti kebesaran diri.

Namun, waktu selalu memiliki cara yang elegan untuk mengungkapkan kebenaran. Ketika jabatan berakhir dan singgasana kembali menjadi milik sejarah, barulah terlihat siapa yang benar-benar dihormati karena integritasnya, dan siapa yang hanya dimuliakan oleh kekuasaan yang pernah digenggamnya. Sebab, ketinggian jabatan dapat mengangkat kedudukan seseorang, tetapi hanya kerendahan hati yang mampu meninggikan martabatnya.

Ada pemimpin yang merasa dirinya besar karena duduk di kursi kekuasaan. Ada pula pemimpin yang merasa berkuasa karena dikelilingi orang-orang yang selalu mengangguk, memuji, dan membenarkan setiap perkataannya. Namun, sejarah mengajarkan bahwa tidak semua orang yang duduk di singgasana benar-benar memiliki kewibawaan, dan tidak semua orang yang berdiri tanpa singgasana kehilangan kehormatannya.

Sebab, pemimpin sejati tidak diukur dari tingginya kursi yang diduduki, melainkan dari seberapa besar manfaat yang ditinggalkan.

Kehidupan memiliki hukum yang sederhana, tetapi sering kali sulit diterima oleh mereka yang sedang berada di puncak kekuasaan, jabatan dapat memberikan kewenangan, tetapi tidak otomatis menghadirkan kebijaksanaan. Kekayaan dapat membeli kemewahan, tetapi tidak selalu mendatangkan ketenangan. Kekuasaan dapat membuat seseorang ditakuti, tetapi belum tentu membuatnya dihormati.

Dalam kisah kepemimpinan para nabi, kita mengenal Nabi Sulaiman AS, seorang nabi sekaligus raja yang dianugerahi Allah SWT kekuasaan luar biasa. Beliau memiliki kerajaan yang megah, kekayaan yang melimpah, serta kemampuan istimewa untuk memahami komunikasi burung dan mengendalikan angin dengan izin Allah. Al-Qur’an juga mengisahkan keterlibatan bangsa jin dalam pekerjaan yang diperintahkan kepadanya.

Namun, pelajaran terpenting dari Nabi Sulaiman bukanlah seberapa luas kerajaannya, seberapa megah singgasananya, atau seberapa banyak makhluk yang berada dalam kekuasaannya. Pelajaran terpentingnya adalah bagaimana kekuasaan yang besar tetap diletakkan di bawah kesadaran akan kebesaran Tuhan.

Di sinilah kita menemukan makna kepemimpinan yang melampaui zaman: seseorang boleh memiliki kekuasaan yang tinggi, tetapi hatinya tidak boleh ikut meninggi di hadapan sesama manusia.

Kehidupan berjalan seperti roda. Ada masa seseorang berada di atas, ada masa ia berada di bawah. Ada waktu ketika namanya disebut di setiap ruang pertemuan, ada pula masa ketika dunia berjalan tanpa lagi menyebut namanya.

Tidak ada jabatan yang benar-benar abadi. Tidak ada kekuasaan yang selamanya berada dalam genggaman. Bahkan singgasana yang paling kokoh sekalipun suatu hari akan ditinggalkan oleh orang yang mendudukinya.

Renungan ini sejalan dengan pemikiran filsafat tentang kefanaan manusia. Dalam tradisi filsafat Stoik, terutama pemikiran Marcus Aurelius, manusia diajak menyadari bahwa segala sesuatu yang berada di luar kendali dirinya, termasuk kedudukan, reputasi, dan penghormatan orang lain, bersifat tidak kekal. Karena itu, yang perlu dijaga bukan semata-mata kedudukan, melainkan kualitas tindakan dan keluhuran karakter.

Dalam kehidupan kepemimpinan, pemikiran tersebut mengandung pesan mendalam. Jangan membangun harga diri hanya di atas jabatan, sebab ketika jabatan berakhir, seseorang bisa kehilangan seluruh alasan yang selama ini membuatnya merasa berharga.

Pemimpin yang menggantungkan kehormatan pada kekuasaan akan gelisah ketika kekuasaan mulai menjauh. Sebaliknya, pemimpin yang membangun kehormatan melalui integritas akan tetap memiliki martabat meskipun tidak lagi memegang kewenangan.

Nabi Sulaiman AS memberi pelajaran tentang bagaimana nikmat kekuasaan harus disertai kesadaran kepada Sang Pemberi nikmat. Seorang raja yang memiliki pasukan besar justru memperlihatkan kesadaran untuk bersyukur, bukan kesombongan karena kekuasaan. Kesadaran kepada Sang Pemberi nikmat. Dalam Surah An-Naml ayat 19, ketika mendengar perkataan seekor semut, beliau tersenyum lalu berdoa agar senantiasa bersyukur atas nikmat Allah.

Robert K. Greenleaf memperkenalkan konsep servant leadership atau kepemimpinan yang melayani. Dalam pendekatan ini, pemimpin tidak pertama-tama bertanya tentang seberapa besar kekuasaan yang dapat diperolehnya, melainkan seberapa jauh dirinya mampu melayani dan mengembangkan orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya.

Teori ini membalik cara pandang yang selama ini sering berkembang dalam kehidupan organisasi.

Pemimpin bukan pusat dari seluruh penghormatan. Pemimpin adalah pemegang amanah yang harus memastikan bahwa orang-orang di sekitarnya memperoleh kesempatan untuk tumbuh, bekerja dengan bermartabat, dan merasakan manfaat dari keputusan yang diambil.

Kekuasaan, dalam perspektif ini, bukan tangga untuk meninggalkan orang lain di bawah. Ia adalah sarana untuk mengangkat mereka yang membutuhkan kesempatan.

Pelajaran tersebut dapat direnungkan melalui kisah Nabi Sulaiman AS ketika mendengar perkataan seekor semut dalam Surah An-Naml ayat 18–19. Semut itu memperingatkan kaumnya agar masuk ke sarang supaya tidak terinjak oleh pasukan yang melintas. Nabi Sulaiman memahami perkataan makhluk kecil itu dan meresponsnya dengan senyuman serta doa.

Kisah ini tidak secara langsung merumuskan teori kepemimpinan modern, tetapi memberikan pelajaran moral yang sejalan dengannya: pemimpin yang besar tidak kehilangan kepekaan terhadap kehidupan yang kecil.

Bayangkan jika prinsip tersebut diterapkan dalam kehidupan pemerintahan, pendidikan, perusahaan, dan organisasi sosial. Seorang pemimpin tidak hanya mendengar laporan pejabat di ruang rapat, tetapi juga bersedia mendengarkan guru di ruang kelas, pegawai di lapangan, serta orang-orang yang menghadapi langsung persoalan pelayanan.

Ia tidak hanya bertanya apakah program telah dilaksanakan, tetapi juga apakah program tersebut benar-benar memberikan manfaat.

Sebab, laporan dapat disusun dengan indah, angka dapat dipresentasikan dengan meyakinkan, dan keberhasilan dapat diumumkan dengan meriah. Namun, kenyataan di lapangan selalu memiliki ceritanya sendiri.

Pemimpin yang melayani berani mendekati kenyataan itu. Ia tidak meminta semua orang datang kepadanya; ia bersedia mendekat ketika orang lain membutuhkan pertolongan.

Sosiolog Max Weber menjelaskan berbagai bentuk legitimasi kekuasaan, antara lain otoritas tradisional, karismatik, dan legal-rasional. Dalam kehidupan modern, kewenangan seorang pejabat biasanya bertumpu pada aturan, jabatan, dan sistem organisasi.

Seseorang dapat menjadi kepala dinas karena mekanisme pengangkatan. Seseorang dapat menjadi rektor karena proses pemilihan. Seseorang dapat menjadi kepala sekolah karena penetapan yang sah. Semua itu memberikan kewenangan formal untuk menjalankan tugas.

Namun, kewenangan formal tidak otomatis menjamin kepercayaan. Di sinilah perbedaan antara orang yang memiliki jabatan dan orang yang benar-benar memiliki pengaruh moral. Jabatan memungkinkan seseorang mengeluarkan keputusan, tetapi integritas menentukan apakah keputusan tersebut layak dipercaya.

Pemimpin yang hanya mengandalkan kewenangan formal biasanya merasa cukup ketika perintahnya dipatuhi. Pemimpin yang memahami makna legitimasi justru berusaha memastikan bahwa kewenangannya dijalankan secara adil, terbuka, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Ia tidak menjadikan perbedaan pendapat sebagai bentuk pembangkangan. Ia tidak menggunakan aturan hanya untuk menguntungkan dirinya. Ia juga tidak menganggap kritik sebagai serangan terhadap kehormatan pribadi.

Dalam organisasi yang sehat, kepatuhan memang diperlukan, tetapi kepercayaan jauh lebih berharga untuk membangun keberlanjutan.

Sebab, seseorang mungkin menjalankan perintah karena takut kehilangan pekerjaan, tetapi belum tentu percaya kepada orang yang memberikannya.

Ketika jabatan berakhir, kewenangan formal pun ikut berakhir. Namun, pengaruh moral dapat bertahan jauh lebih lama.

Itulah mengapa ada mantan pemimpin yang masih dihormati setelah bertahun-tahun meninggalkan jabatan, sementara ada pula yang segera dilupakan setelah pintu ruang kerjanya ditutup.

Yang satu meninggalkan kepercayaan. Yang lain mungkin hanya meninggalkan kenangan tentang kekuasaan.

Dalam psikologi, konsep self-awareness atau kesadaran diri mengajarkan pentingnya kemampuan seseorang mengenali pikiran, emosi, kelemahan, dan dampak perilakunya terhadap orang lain.

Kesadaran diri sangat penting bagi seorang pemimpin karena kekuasaan dapat mengubah cara seseorang memandang dirinya dan lingkungannya.

Ketika selalu dipuji, seseorang bisa mulai menganggap dirinya tidak pernah salah. Ketika selalu dilayani, ia bisa mengira bahwa pelayanan merupakan hak pribadi. Ketika setiap keputusan diterima tanpa perdebatan, ia bisa kehilangan kebiasaan untuk menguji kembali pikirannya sendiri.

Perlahan-lahan, kritik dianggap sebagai ancaman, perbedaan pendapat dipandang sebagai ketidakloyalan, dan orang yang berani berkata jujur justru dijauhkan.

Padahal, pemimpin paling membutuhkan orang-orang yang berani mengatakan kebenaran, terutama ketika kebenaran itu tidak menyenangkan.

Ada paradoks dalam kekuasaan: semakin besar kewenangan seseorang, semakin mudah ia menciptakan lingkungan yang hanya memperlihatkan hal-hal yang ingin didengarnya. Karena itu, semakin tinggi kedudukannya, semakin besar pula kebutuhan untuk menjaga kerendahan hati dan membuka ruang bagi koreksi.

Nabi Sulaiman AS tidak seharusnya dipahami sebagai manusia yang memiliki kuasa tanpa batas. Beliau adalah nabi yang menerima karunia khusus dari Allah. Kisah hidupnya mengingatkan manusia agar tidak mengubah nikmat menjadi alasan untuk menyombongkan diri.

Dalam Surah An-Naml ayat 19, doa Nabi Sulaiman menekankan rasa syukur atas nikmat Allah dan permohonan agar dapat melakukan amal saleh yang diridai-Nya.

Ada pesan yang sangat kuat di dalamnya: pengakuan atas nikmat seharusnya melahirkan tanggung jawab, bukan keangkuhan.

Pemimpin yang sadar diri tidak selalu merasa benar. Ia berani berkata, “Saya keliru.” Ia mampu meminta maaf tanpa merasa kehilangan martabat. Ia bersedia belajar dari bawahan tanpa merasa kedudukannya terancam.

Sebab, kerendahan hati bukan tanda kelemahan; kerendahan hati adalah kemampuan untuk tetap belajar ketika dunia telah memberinya kekuasaan

Dalam Surah Saba’ ayat 12-13 dan Surah Shad ayat 35-38, Al-Qur’an menjelaskan tentang angin dan jin yang ditundukkan bagi Nabi Sulaiman dengan izin Allah.

Akan tetapi, kisah tersebut tidak semestinya dijadikan pembenaran bagi manusia untuk merasa memiliki kekuasaan tanpa batas. Keistimewaan Nabi Sulaiman merupakan karunia khusus dari Allah, bukan ukuran yang dapat digunakan untuk membandingkan kemampuan manusia biasa.

Justru dari kisah itu lahir sebuah pertanyaan reflektif: jika manusia modern memiliki teknologi yang mampu mengendalikan informasi, menggerakkan ekonomi, dan memengaruhi kehidupan banyak orang, mengapa mengendalikan kesombongan diri sendiri masih menjadi persoalan?

Kita mampu membangun gedung tinggi, tetapi belum tentu mampu meninggikan kualitas moral. Kita mampu mengirim informasi dalam hitungan detik, tetapi terkadang gagal mendengarkan keluhan orang yang berada tepat di hadapan kita. Kita mampu merancang sistem pengawasan yang canggih, tetapi belum tentu berani mengawasi perilaku diri sendiri.

Dalam teori kecerdasan emosional yang dipopulerkan Daniel Goleman, pengendalian diri merupakan bagian penting dari kemampuan mengelola emosi dan merespons situasi secara bijaksana.

Bagi pemimpin, kemampuan ini sangat menentukan. Amarah yang tidak terkendali dapat melukai martabat bawahan. Ambisi yang tidak dibatasi etika dapat mengorbankan kepentingan organisasi. Keinginan untuk selalu dipuji dapat membuat keputusan diarahkan demi pencitraan, bukan demi penyelesaian masalah.

Pemimpin yang matang bukan orang yang tidak pernah marah, tidak pernah kecewa, atau tidak pernah memiliki ambisi. Ia adalah orang yang mampu menempatkan semua itu di bawah kendali akal sehat, etika, dan tanggung jawab.

Ada orang yang mampu mengatur puluhan orang, tetapi tidak mampu mengatur ucapannya. Ada yang dapat mengendalikan anggaran besar, tetapi tidak mampu mengendalikan keinginannya. Ada pula yang mampu memerintah sebuah organisasi, tetapi tidak mampu menahan egonya ketika dikritik.

Di situlah sesungguhnya ujian kepemimpinan dimulai. Bukan ketika semua orang patuh, melainkan ketika seseorang mampu tetap adil meskipun memiliki kesempatan untuk bertindak sewenang-wenang.

John Rawls, melalui teori keadilannya, menekankan pentingnya prinsip-prinsip yang adil dalam mengatur kehidupan bersama. Gagasan tersebut mengajak kita melihat apakah aturan dan keputusan dapat dibenarkan kepada orang-orang yang terkena dampaknya, termasuk mereka yang memiliki posisi paling lemah.

Dalam kepemimpinan, keadilan bukan sekadar membagikan sesuatu secara sama rata. Keadilan juga menuntut agar keputusan mempertimbangkan hak, kebutuhan, kesempatan, dan tanggung jawab secara proporsional.

Seorang pemimpin diuji bukan hanya ketika memberikan penghargaan kepada orang yang mendukungnya, tetapi juga ketika harus memperlakukan orang yang berbeda pendapat secara adil.

Apakah kesempatan diberikan berdasarkan kemampuan dan aturan, atau berdasarkan kedekatan pribadi? Apakah anggaran dialokasikan sesuai kebutuhan, atau mengikuti kepentingan kelompok tertentu? Apakah kritik diperiksa berdasarkan substansinya, atau ditolak hanya karena datang dari orang yang tidak disukai?

Pertanyaan-pertanyaan itu menentukan kualitas moral sebuah kepemimpinan.

Dalam kehidupan pemerintahan, keadilan harus terlihat dalam pelayanan yang tidak diskriminatif. Dalam pendidikan, keadilan berarti memastikan bahwa kebijakan dan sumber daya mendukung peningkatan mutu pembelajaran, bukan hanya memperkuat kenyamanan birokrasi. Dalam organisasi, keadilan berarti memberikan kesempatan kepada orang lain untuk berkembang tanpa harus menjadi bagian dari lingkaran kekuasaan.

Pemimpin tanpa singgasana memahami bahwa kewenangan bukan milik pribadi. Ia tidak berhak menggunakan jabatan untuk membalas kesetiaan atau menghukum perbedaan pendapat.

Ia menyadari bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi terhadap kehidupan orang lain.

Karena itu, semakin besar kekuasaan yang dimiliki, semakin besar pula kewajiban untuk menjamin keadilan.

James MacGregor Burns memperkenalkan konsep kepemimpinan transformasional, yang kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh Bernard Bass. Pendekatan ini menekankan kemampuan pemimpin membangun visi, menggerakkan motivasi, dan mendorong perkembangan orang-orang yang dipimpinnya.

Pemimpin yang transformatif tidak merasa dirinya harus selalu menjadi pusat dari segala sesuatu. Ia justru berusaha menciptakan lingkungan tempat orang lain mampu berpikir, mengambil inisiatif, dan berkembang menjadi pribadi yang mandiri.

Inilah perbedaan antara pemimpin yang ingin terus dibutuhkan dan pemimpin yang ingin orang lain menjadi lebih mampu.

Pemimpin yang takut kehilangan pengaruh cenderung memelihara ketergantungan. Ia mungkin enggan membagikan pengetahuan, membatasi ruang pengambilan keputusan, atau merasa terancam ketika bawahannya mulai menunjukkan kemampuan.

Sebaliknya, pemimpin yang matang tidak takut melahirkan orang-orang yang lebih cakap. Ia memahami bahwa keberhasilan kepemimpinan bukanlah ketika seluruh organisasi bergantung pada satu orang, melainkan ketika organisasi tetap berjalan dengan baik karena sistem, karakter, dan kemampuan kolektif telah dibangun.

Dalam konteks ini, singgasana tidak lagi menjadi tempat untuk menunjukkan siapa yang paling tinggi. Singgasana menjadi simbol tanggung jawab untuk menyiapkan generasi yang mampu melanjutkan pekerjaan dengan lebih baik.

Pemimpin yang hebat bukan hanya meninggalkan program, bangunan, atau dokumen pertanggungjawaban. Ia meninggalkan manusia-manusia yang lebih berpengetahuan, lebih mandiri, lebih berani berkata benar, dan lebih bertanggung jawab.

Ketika masa jabatan berakhir, ia tidak merasa seluruh perjuangannya ikut berakhir. Ia justru menemukan ketenangan karena pekerjaan yang dirintisnya dapat diteruskan oleh orang lain.

Itulah warisan kepemimpinan yang sesungguhnya: bukan membuat nama sendiri terus-menerus disebut, melainkan memastikan kebaikan tetap berjalan meskipun nama itu tidak lagi disebut.

Dalam pemikiran sosiologi, konsep modal sosial berkaitan dengan nilai yang tumbuh dari jaringan hubungan, norma bersama, dan kepercayaan yang memungkinkan orang bekerja sama.

Kehidupan organisasi tidak hanya digerakkan oleh aturan dan struktur. Ia juga ditopang oleh kepercayaan.

Seorang pemimpin dapat memiliki kewenangan formal untuk memberikan perintah, tetapi keberhasilan jangka panjang membutuhkan kesediaan orang-orang untuk bekerja dengan kesadaran, bukan semata-mata karena takut terhadap konsekuensi.

Penghormatan yang dipaksakan mungkin menghasilkan kepatuhan sesaat. Namun, kepercayaan yang dibangun melalui konsistensi dan keadilan dapat melahirkan kerja sama yang lebih kuat.

Cobalah perhatikan perbedaan dua sosok pemimpin.

Yang pertama selalu disambut dengan tepuk tangan. Setiap kali datang, orang-orang berdiri, tersenyum, dan menyampaikan pujian. Namun, ketika ia tidak hadir, tak seorang pun merasa kehilangan arah.

Yang kedua mungkin tidak memiliki banyak pengawal, tidak selalu disambut dengan seremoni, dan tidak memerlukan pujian dalam setiap pertemuan. Namun, ketika ia tidak lagi menjabat, orang-orang masih mengenang nasihatnya, meneruskan nilai-nilai yang ditanamkannya, dan menjadikannya teladan.

Pemimpin pertama mungkin memiliki banyak penghormatan yang terlihat. Pemimpin kedua telah membangun kepercayaan yang berakar.

Tentu, penghormatan formal tidak selalu berarti kepalsuan, dan seremoni tidak selalu menunjukkan kesombongan. Persoalannya terletak pada apa yang tumbuh di balik semua itu.

Apakah penghormatan lahir dari ketakutan, kepentingan, dan kebutuhan sesaat? Ataukah ia tumbuh dari pengalaman melihat kejujuran, keberanian, dan keadilan?

Sebab, orang bisa berpura-pura menghormati jabatan, tetapi jauh lebih sulit memalsukan kenangan tentang kebaikan yang benar-benar pernah diterimanya.

Dalam kehidupan modern, singgasana tidak selalu berbentuk kursi kerajaan yang berlapis emas. Ia bisa menjelma menjadi jabatan, gelar, fasilitas, ruang kerja yang megah, iring-iringan kendaraan, atau lingkaran orang-orang yang selalu siap memberikan penghormatan.

Tidak ada yang salah dengan fasilitas jabatan selama digunakan untuk mendukung pelaksanaan tugas. Persoalan muncul ketika fasilitas berubah menjadi ukuran harga diri, jabatan menjadi alat untuk menuntut penghormatan, dan kekuasaan dijadikan alasan untuk menjaga jarak dari orang-orang yang dipimpin.

Pada titik itu, seorang pemimpin mungkin masih memiliki jabatan, tetapi perlahan kehilangan kepercayaan.

Ia duduk di kursi tertinggi, tetapi tidak lagi mendengar suara bawahannya. Ia dikelilingi banyak orang, tetapi tidak mengetahui kesulitan yang mereka hadapi. Ia menerima laporan tentang keberhasilan, tetapi tidak pernah sungguh-sungguh memeriksa apakah keberhasilan itu dirasakan oleh mereka yang menjadi tujuan kebijakan.

Singgasana akhirnya hanya menjadi simbol yang dipertahankan, bukan amanah yang dijalankan. Pemikiran ini sejalan dengan prinsip tata kelola pemerintahan yang baik atau good governance, yang menekankan akuntabilitas, transparansi, partisipasi, efektivitas, dan keadilan.

Kepemimpinan yang baik tidak cukup hanya terlihat tertib dari luar. Proses pengambilan keputusan harus dapat dipertanggungjawabkan. Penggunaan kewenangan harus memiliki dasar yang jelas. Pelayanan harus berorientasi pada kebutuhan, dan ruang kritik harus tetap terbuka.

Sebaliknya, ada seseorang yang tidak memiliki jabatan tinggi, tidak mempunyai ruang kerja mewah, dan tidak disambut dengan penghormatan berlebihan. Namun, kehadirannya dinantikan karena ia mampu memberikan jalan keluar.

Perkataannya didengar bukan karena ancaman, melainkan karena integritas. Bantuan yang diberikannya dikenang bukan karena ingin dipuji, melainkan karena ketulusan.

Orang seperti inilah yang layak disebut sebagai pemimpin tanpa singgasana. Ia tidak memerlukan mahkota untuk dihormati. Ia tidak membutuhkan pengawal untuk menunjukkan kewibawaan. Ia juga tidak harus mengendalikan orang lain agar kehadirannya diperhitungkan.

Kepemimpinannya tumbuh dari kepercayaan. mata dipahami sebagai hak untuk memerintah, melainkan amanah yang harus dijalankan dengan adil.

Al-Qur’an, Surah An-Nisa ayat 58, memerintahkan agar amanah disampaikan kepada yang berhak menerimanya dan agar manusia menetapkan hukum dengan adil. Pesan ini memberikan dasar moral yang kuat bagi setiap bentuk kepemimpinan.

Amanah berarti ada sesuatu yang dipercayakan kepada seseorang, tetapi tidak sepenuhnya menjadi milik pribadinya.

Jabatan adalah amanah. Anggaran adalah amanah. Wewenang mengambil keputusan adalah amanah. Bahkan kepercayaan orang lain pun merupakan amanah yang tidak boleh dipermainkan.

Ketika seseorang menerima jabatan, sesungguhnya ia tidak hanya memperoleh hak untuk mengambil keputusan. Ia juga menerima kewajiban untuk memastikan bahwa keputusan tersebut tidak merugikan orang-orang yang mempercayakan tanggung jawab kepadanya.

Karena itu, ukuran keberhasilan seorang pemimpin tidak cukup berhenti pada berapa lama ia menjabat, berapa banyak kegiatan yang diselenggarakan, atau berapa besar anggaran yang dikelola.

Pertanyaan yang lebih mendasar ialah, apakah kewenangan itu digunakan secara benar? Apakah keputusan yang diambil memberikan manfaat? Apakah orang-orang yang dipimpin diperlakukan secara adil? Apakah tanggung jawab yang diterima telah ditunaikan dengan sungguh-sungguh?

Dalam kisah Nabi Sulaiman AS, kekuasaan yang besar tidak boleh dipisahkan dari rasa syukur kepada Allah. Doanya dalam Surah An-Naml ayat 19 memperlihatkan kesadaran bahwa nikmat harus diiringi kemampuan untuk melakukan amal saleh.

Bagi manusia biasa, pesan ini mengandung peringatan yang jernih: semakin besar kepercayaan yang diberikan, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dipikul.

Tidak ada alasan untuk menggunakan kekuasaan seolah-olah manusia adalah pemilik mutlak atas segala sesuatu yang dipercayakan kepadanya.

Pada akhirnya, setiap jabatan memiliki batas waktu, tetapi pertanggungjawaban moral tidak selesai hanya karena surat keputusan telah berakhir.

Lalu, bagaimana dengan pemimpin yang tidak memiliki singgasana? Ia mungkin tidak mempunyai jabatan tinggi. Ia tidak memiliki kewenangan untuk menandatangani keputusan besar. Namanya mungkin tidak tercantum dalam daftar pejabat, dan kehadirannya tidak selalu mendapat perhatian.

Namun, ia tetap dapat menjadi pemimpin. Seorang guru yang menyalakan semangat belajar murid-muridnya adalah pemimpin. Seorang orang tua yang mendidik anak-anaknya dengan kejujuran adalah pemimpin. Seorang pegawai yang menolak berbuat curang meskipun tidak diawasi adalah pemimpin. Seorang warga yang membantu menyelesaikan persoalan bersama tanpa menunggu penghargaan juga sedang menjalankan kepemimpinan.

Kepemimpinan bukan hanya perkara struktur, melainkan juga pengaruh moral yang lahir dari tindakan sehari-hari.

Kita tidak harus menunggu menjadi pejabat untuk berlaku adil. Kita tidak perlu menjadi pemimpin organisasi untuk berani berkata benar. Kita tidak harus memiliki kekayaan untuk memberi manfaat. Dan kita tidak harus memiliki kekuasaan untuk menunjukkan kepedulian.

Ada orang yang hidupnya sederhana, tetapi kehadirannya memberikan ketenangan. Ada orang yang tidak banyak berbicara, tetapi tindakannya menjadi pelajaran. Ada pula orang yang tidak pernah meminta dihormati, tetapi justru mendapatkan penghormatan karena ketulusannya.

Mereka mungkin tidak memiliki singgasana, tetapi telah membangun sesuatu yang lebih sulit diperoleh daripada jabatan: kepercayaan.

Di sinilah teori-teori kepemimpinan, psikologi, filsafat, dan nilai-nilai keagamaan bertemu pada satu titik. Manusia menjadi berarti bukan semata-mata karena apa yang dimilikinya, melainkan karena bagaimana ia menggunakan apa yang dimilikinya untuk kehidupan orang lain.

Kekuasaan dapat menjadi alat untuk membangun atau meruntuhkan. Pengetahuan dapat menjadi jalan untuk mencerdaskan atau menyombongkan diri. Kekayaan dapat menjadi sarana untuk berbagi atau menutup pintu kepedulian.

Pada akhirnya, pemimpin yang sesungguhnya bukanlah orang yang paling banyak memerintah, melainkan orang yang paling bersungguh-sungguh menunaikan tanggung jawabnya.

Ia boleh kehilangan jabatan, tetapi tidak kehilangan integritas. Ia boleh meninggalkan ruang kerjanya, tetapi tidak meninggalkan tanggung jawab moral. Ia boleh turun dari kursi kekuasaan, tetapi tidak turun dari martabat kemanusiaannya.

Nabi Sulaiman AS mengajarkan bahwa kemegahan tidak harus melahirkan kesombongan. Kekuasaan yang besar dapat berjalan bersama rasa syukur, dan keistimewaan yang luar biasa tetap harus diletakkan dalam kesadaran akan kebesaran Allah.

Dari sana, kita belajar bahwa singgasana bukanlah musuh kerendahan hati. Yang menjadi persoalan adalah ketika manusia menjadikan singgasana sebagai alasan untuk merasa lebih tinggi daripada sesamanya.

Jangan terlalu sibuk membangun singgasana hingga lupa membangun kepercayaan. Jangan terlalu ingin ditakuti hingga kehilangan kesempatan untuk dihormati dengan tulus. Jangan terlalu sibuk menjaga kedudukan hingga lupa menjaga keadilan.

Sebab, pada suatu hari, semua orang akan meninggalkan tempatnya masing-masing. Ruang kerja akan ditempati orang lain. Kursi jabatan akan diduduki penerus. Nama yang dahulu sering disebut mungkin perlahan menghilang dari percakapan.

Apakah kehadiran kita pernah memudahkan urusan orang lain? Apakah keputusan kita pernah memberikan keadilan? Apakah perkataan kita pernah menguatkan mereka yang hampir menyerah? Apakah kekuasaan yang kita miliki pernah digunakan untuk membuka kesempatan bagi orang lain?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang lebih penting daripada seberapa tinggi singgasana yang pernah kita duduki. Sebab, singgasana hanya tempat seseorang duduk, sedangkan kepemimpinan adalah cara seseorang memperlakukan sesama.

Jabatan mungkin membuat seseorang dikenal, tetapi ketulusan membuatnya dikenang. Kekuasaan mungkin membuat seseorang didengar, tetapi keadilan membuatnya dipercaya. Dan singgasana mungkin meninggikan tempat duduk seseorang, tetapi hanya kerendahan hati yang mampu meninggikan martabatnya.

Inilah makna Pemimpin Tanpa Singgasana: seseorang yang tidak membutuhkan kemegahan untuk menjadi berarti, tidak memerlukan kekuasaan tanpa batas untuk menjadi berwibawa, dan tidak harus terus menjabat untuk tetap dikenang sebagai manusia yang membawa kebaikan.

Karena ketika singgasana telah kosong, yang tersisa bukanlah tinggi rendahnya kursi, melainkan jejak keadilan, ketulusan, dan manfaat yang pernah ditinggalkan.

Dan mungkin, pada saat itulah kita akhirnya memahami bahwa singgasana tertinggi dalam kehidupan bukanlah tempat yang diduduki oleh tubuh, melainkan tempat yang dibangun oleh hati di dalam ingatan dan kehidupan sesama manusia.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement